Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Opini
  3. Detail Opini
Dari Molekul Menuju Generasi Emas 2045

Dari Molekul Menuju Generasi Emas 2045

disusun oleh Amalyah Febryanti, S.Si., M.Si.

Mengapa biokimia penting dalam mengawal Program Makan Bergizi Gratis—dan mengapa keberhasilannya harus diukur dari kualitas biologis, keamanan pangan, serta kemampuan anak untuk tumbuh dan belajar, bukan hanya dari jumlah porsi yang dibagikan.

Generasi Emas tidak lahir dari slogan

Indonesia sering membicarakan 2045 sebagai titik sejarah: satu abad kemerdekaan, momentum ketika negeri ini diharapkan telah menjadi negara maju dengan sumber daya manusia yang sehat, produktif, berpendidikan, dan berdaya saing. Namun, ada satu kenyataan biologis yang kadang luput dari percakapan besar itu. Generasi yang akan mengisi Indonesia pada 2045 sedang makan, tumbuh, belajar, dan membangun jaringan tubuhnya hari ini. Masa depan nasional, dalam arti yang sangat harfiah, sedang dibentuk melalui reaksi kimia di dalam miliaran sel anak-anak Indonesia.

Dari sudut pandang inilah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi menarik untuk dibaca melalui kacamata biokimia. Program makan sekolah mudah dipahami sebagai kebijakan sosial: negara menyediakan makanan untuk mengurangi beban keluarga dan memastikan anak memperoleh asupan selama berada di sekolah. Tetapi biokimia mengingatkan bahwa makanan tidak berhenti sebagai porsi di atas nampan. Nasi, ikan, telur, tempe, sayur, buah, dan susu—jika digunakan—akan dipecah menjadi glukosa, asam amino, asam lemak, vitamin, mineral, dan berbagai molekul lain. Molekul-molekul itu masuk ke lintasan metabolik, menjadi energi, membran sel, enzim, hormon, neurotransmiter, hemoglobin, jaringan otot, tulang, dan komponen sistem imun.

Dengan kata lain, MBG bukan hanya proyek logistik makanan. Ia berpotensi menjadi intervensi biologis berskala sangat besar. Karena skalanya besar, keberhasilannya juga tidak cukup dinilai dari jumlah dapur, paket, atau porsi yang tersalurkan. Pertanyaan yang lebih substantif adalah apakah makanan yang diberikan benar-benar memperbaiki kualitas diet; apakah ia memenuhi kebutuhan makro- dan mikronutrien tanpa mendorong kelebihan energi; apakah anak yang rentan anemia atau defisiensi mikronutrien memperoleh manfaat; apakah keamanan pangan terjaga; dan apakah dalam jangka menengah program berkontribusi pada pertumbuhan, kebugaran, kehadiran, konsentrasi, serta kapasitas belajar.

Cara pandang semacam ini sejalan dengan arah pembangunan jangka panjang. RPJPN 2025–2045 menempatkan peningkatan daya saing sumber daya manusia sebagai salah satu sasaran utama menuju Indonesia Emas 2045. Itu berarti investasi pada manusia harus dimulai jauh sebelum seseorang masuk pasar kerja. Tubuh dan otak tidak dapat dibangun secara instan ketika seseorang berusia 20 atau 25 tahun. Fondasinya dibentuk sejak masa janin, anak, dan remaja—periode ketika kebutuhan zat gizi, infeksi, aktivitas fisik, lingkungan belajar, serta stimulasi sosial saling berinteraksi membentuk kapasitas manusia sepanjang hayat (Victora et al., 2008; Black et al., 2013; Prado & Dewey, 2014).

Baca selengkapnya di sini