disusun oleh Amalyah Febryanti, S.Si., M.Si.
Mengapa biokimia penting dalam mengawal Program
Makan Bergizi Gratis—dan mengapa keberhasilannya harus diukur dari kualitas
biologis, keamanan pangan, serta kemampuan anak untuk tumbuh dan belajar, bukan
hanya dari jumlah porsi yang dibagikan.
Generasi Emas tidak lahir dari slogan
Indonesia sering membicarakan
2045 sebagai titik sejarah: satu abad kemerdekaan, momentum ketika negeri ini
diharapkan telah menjadi negara maju dengan sumber daya manusia yang sehat,
produktif, berpendidikan, dan berdaya saing. Namun, ada satu kenyataan biologis
yang kadang luput dari percakapan besar itu. Generasi yang akan mengisi
Indonesia pada 2045 sedang makan, tumbuh, belajar, dan membangun jaringan
tubuhnya hari ini. Masa depan nasional, dalam arti yang sangat harfiah, sedang
dibentuk melalui reaksi kimia di dalam miliaran sel anak-anak Indonesia.
Dari sudut pandang inilah
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi menarik untuk dibaca melalui
kacamata biokimia. Program makan sekolah mudah dipahami sebagai kebijakan
sosial: negara menyediakan makanan untuk mengurangi beban keluarga dan
memastikan anak memperoleh asupan selama berada di sekolah. Tetapi biokimia
mengingatkan bahwa makanan tidak berhenti sebagai porsi di atas nampan. Nasi,
ikan, telur, tempe, sayur, buah, dan susu—jika digunakan—akan dipecah menjadi
glukosa, asam amino, asam lemak, vitamin, mineral, dan berbagai molekul lain.
Molekul-molekul itu masuk ke lintasan metabolik, menjadi energi, membran sel,
enzim, hormon, neurotransmiter, hemoglobin, jaringan otot, tulang, dan komponen
sistem imun.
Dengan kata lain, MBG bukan hanya proyek logistik makanan. Ia berpotensi menjadi intervensi biologis berskala sangat besar. Karena skalanya besar, keberhasilannya juga tidak cukup dinilai dari jumlah dapur, paket, atau porsi yang tersalurkan. Pertanyaan yang lebih substantif adalah apakah makanan yang diberikan benar-benar memperbaiki kualitas diet; apakah ia memenuhi kebutuhan makro- dan mikronutrien tanpa mendorong kelebihan energi; apakah anak yang rentan anemia atau defisiensi mikronutrien memperoleh manfaat; apakah keamanan pangan terjaga; dan apakah dalam jangka menengah program berkontribusi pada pertumbuhan, kebugaran, kehadiran, konsentrasi, serta kapasitas belajar.
Cara pandang semacam ini
sejalan dengan arah pembangunan jangka panjang. RPJPN 2025–2045 menempatkan
peningkatan daya saing sumber daya manusia sebagai salah satu sasaran utama
menuju Indonesia Emas 2045. Itu berarti investasi pada manusia harus dimulai jauh
sebelum seseorang masuk pasar kerja. Tubuh dan otak tidak dapat dibangun secara
instan ketika seseorang berusia 20 atau 25 tahun. Fondasinya dibentuk sejak
masa janin, anak, dan remaja—periode ketika kebutuhan zat gizi, infeksi,
aktivitas fisik, lingkungan belajar, serta stimulasi sosial saling berinteraksi
membentuk kapasitas manusia sepanjang hayat (Victora et al., 2008; Black et
al., 2013; Prado & Dewey, 2014).
Baca selengkapnya di sini