Penulis:
Aisyah, S.Si., M.Si.
(Dosen UIN Alauddin Makassar)
Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas Metal–Organic Frameworks (MOF) sebagai material berpori dengan struktur unik yang tersusun dari simpul logam (metal nodes) dan penghubung organik (organic linkers). Kombinasi keduanya menghasilkan kerangka kristalin dengan luas permukaan sangat besar, pori yang dapat direkayasa, serta situs aktif yang dapat dirancang sesuai kebutuhan. Karakteristik inilah yang menjadikan MOF menarik sebagai material masa depan untuk berbagai aplikasi, terutama dalam bidang katalisis hijau.
Desain Struktur Material Berkinerja Tinggi
Sebagai material yang didesain untuk tujuan berkinerja tinggi, memiliki desain struktur yang ideal saja belum cukup. Sebuah MOF harus melalui proses sintesis yang tepat agar rancangan molekulernya benar-benar dapat diwujudkan menjadi material dengan performa optimal. Tahap sintesis berperan penting dalam menentukan apakah MOF yang dihasilkan memiliki ukuran pori, distribusi situs aktif, kestabilan struktur, dan karakter permukaan sesuai dengan fungsi katalitik yang diharapkan.
Dalam konteks kimia hijau, sintesis MOF memiliki tantangan tambahan. Material yang dihasilkan tidak hanya harus memiliki aktivitas katalitik tinggi, tetapi juga perlu dibuat melalui proses yang hemat energi, menghasilkan sedikit limbah, serta menggunakan bahan kimia yang lebih aman bagi lingkungan. Dengan kata lain, keberhasilan sintesis MOF tidak hanya diukur dari kualitas material akhirnya, tetapi juga dari keberlanjutan proses pembuatannya (Kochetygov et al., 2024).
Hubungan antara desain dan sintesis MOF dapat dianalogikan seperti merancang sebuah bangunan. Desain arsitektur yang sangat baik tidak akan menghasilkan bangunan berkualitas apabila proses konstruksinya tidak mampu menerjemahkan rancangan tersebut secara tepat. Hal yang sama berlaku pada MOF. Struktur yang telah dirancang secara komputasi atau teoritis perlu didukung oleh strategi sintesis yang mampu mempertahankan karakteristik yang diinginkan. Beberapa faktor seperti kelarutan prekursor, kestabilan komponen penyusun, jenis pelarut, suhu reaksi, serta metode pemanasan harus dipertimbangkan secara matang. Selain itu, sintesis MOF yang berorientasi hijau juga menghadapi tantangan seperti pengendalian ukuran kristal, reproduktifitas hasil, dan pemasukan gugus fungsi tertentu tanpa merusak struktur utama kerangka (Dai et al., 2021).
Oleh karena itu, pemilihan metode sintesis menjadi tahap strategis dalam pengembangan katalis berbasis MOF. Bagian ini membahas bagaimana desain struktur, parameter sintesis, serta berbagai pendekatan sintesis konvensional dan inovatif dapat digunakan untuk menghasilkan MOF yang efektif, stabil, dan sesuai dengan prinsip keberlanjutan.
Merancang Struktur MOF untuk Katalis yang Tepat Sasaran
Sintesis MOF yang berhasil selalu diawali dengan desain struktur yang matang. Sebelum material dibuat di laboratorium, peneliti perlu memahami jenis reaksi yang akan dikatalisis dan menentukan karakter MOF yang paling sesuai. Pendekatan ini memungkinkan MOF tidak hanya menjadi material berpori, tetapi juga menjadi katalis yang memiliki lingkungan kimia spesifik untuk mempercepat reaksi tertentu.
Komponen utama MOF, yaitu pusat logam dan linker organik, memiliki peran berbeda namun saling melengkapi. Pusat logam dapat berfungsi sebagai situs aktif tempat berlangsungnya reaksi, sedangkan linker organik menentukan ukuran pori, fleksibilitas struktur, dan sifat kimia permukaan (Pal, 2022). Karena itu, pemilihan kombinasi logam dan linker harus mempertimbangkan karakter reaktan serta mekanisme reaksi yang diinginkan. Ukuran molekul substrat menjadi salah satu faktor penting dalam desain pori MOF. Molekul berukuran besar atau memiliki struktur bercabang membutuhkan sistem pori yang lebih kompleks, seperti kombinasi pori mikro dan meso, agar molekul dapat masuk dan bergerak dengan mudah di dalam struktur. Sebaliknya, molekul kecil sering kali lebih sesuai dengan pori mikro yang seragam karena mampu meningkatkan interaksi antara substrat dan situs aktif katalis (G. Li & Han, 2022). Pengaturan ukuran pori dapat dilakukan melalui pemilihan panjang linker organik, geometri koordinasi logam, maupun penggunaan molekul pengarah (*templating agents*). Strategi ini memungkinkan peneliti mengatur ruang internal MOF sehingga proses difusi reaktan dan produk dapat berlangsung lebih efisien.
Selain ukuran molekul, sifat kimia substrat juga menentukan desain MOF. Molekul polar membutuhkan lingkungan pori yang lebih hidrofilik agar interaksi dengan permukaan MOF meningkat. Sebaliknya, substrat nonpolar lebih sesuai dengan lingkungan hidrofobik. Penyesuaian sifat permukaan dapat dilakukan sejak awal sintesis melalui pemilihan linker tertentu atau melalui modifikasi setelah MOF terbentuk (post-synthetic modification, PSM) (Song, 2021). Kondisi reaksi juga menentukan pemilihan logam pusat. Reaksi pada suhu tinggi atau lingkungan asam membutuhkan MOF dengan kestabilan tinggi, misalnya berbasis Zr(IV) atau Al(III), yang memiliki ikatan koordinasi kuat. Sementara itu, logam seperti Co(II) dan Ni(II) dapat digunakan ketika dibutuhkan situs koordinasi terbuka yang lebih reaktif (He et al., 2021). Dengan menggabungkan informasi mengenai substrat, kondisi reaksi, dan karakter kimia komponen penyusun, desain MOF dapat diarahkan untuk menghasilkan katalis dengan keseimbangan optimal antara aktivitas, selektivitas, dan kestabilan (Samanidou & Deliyanni, 2020).
Parameter Sintesis yang Menentukan Kualitas MOF
Setelah struktur MOF dirancang, tahap berikutnya adalah menentukan kondisi sintesis yang tepat. Parameter selama proses pembuatan sangat menentukan karakter akhir material, mulai dari ukuran kristal, luas permukaan, distribusi pori, hingga jumlah situs aktif yang tersedia. Salah satu faktor utama adalah konsentrasi prekursor logam dan linker organik. Konsentrasi tinggi biasanya mempercepat pembentukan inti kristal (nucleation) sehingga menghasilkan kristal berukuran lebih kecil. Sebaliknya, konsentrasi rendah memungkinkan pertumbuhan kristal yang lebih lambat sehingga menghasilkan struktur yang lebih besar dan teratur (Carpenter et al., 2023; Griffin et al., 2020).
Jenis pelarut juga memainkan peran penting dalam pembentukan kerangka MOF. Pelarut organik polar seperti dimetilformamida (DMF) banyak digunakan karena mampu melarutkan berbagai prekursor logam dan organik serta membantu pembentukan struktur kristalin yang stabil (Marino et al., 2021; S. Chen et al., 2024). Namun, penggunaan DMF menjadi perhatian dalam konsep kimia hijau karena sifat toksiknya. Sebagai alternatif, pelarut yang lebih ramah lingkungan seperti air dan etanol mulai banyak dikembangkan. Tantangannya adalah memastikan bahwa penggunaan pelarut tersebut tetap mampu menghasilkan kristal dengan kualitas tinggi. Oleh sebab itu, diperlukan optimasi kondisi sintesis agar aspek keberlanjutan tetap berjalan tanpa mengurangi performa material.
Suhu dan waktu reaksi juga menentukan keberhasilan sintesis. Peningkatan suhu dapat mempercepat pembentukan MOF, terutama pada metode berbasis gelombang mikro. Namun, suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan degradasi linker organik yang sensitif terhadap panas atau menghasilkan struktur yang kurang teratur (Bag et al., 2015; Zorainy et al., 2022). Sebaliknya, waktu reaksi yang terlalu singkat dapat menyebabkan pembentukan kerangka yang belum sempurna. Waktu yang cukup memberikan kesempatan bagi atom logam dan linker untuk membentuk ikatan koordinasi secara optimal sehingga menghasilkan struktur yang lebih stabil dan aktif secara katalitik (Gómez-Oliveira et al., 2022; S. Lee et al., 2024). Selain itu, tingkat keasaman (*pH*) sistem sintesis turut memengaruhi proses pembentukan MOF. Perubahan pH dapat mengatur muatan permukaan, kestabilan ikatan logam–ligan, serta ukuran kristal yang terbentuk. Penambahan modulator seperti asam asetat atau asam format sering digunakan untuk mengontrol proses kristalisasi (Asgharnejad et al., 2019; M. Yang et al., 2025).
Pemahaman terhadap hubungan antara setiap parameter sintesis memungkinkan peneliti menghasilkan MOF dengan karakter yang sesuai tujuan aplikasi. Dengan demikian, sintesis MOF bukan sekadar proses pembentukan material, tetapi merupakan tahap rekayasa yang menentukan keberhasilan katalis dalam mendukung teknologi kimia yang lebih berkelanjutan.
Metode Sintesis Konvensional Sebagai Fondasi Pengembangan MOF Modern
Perkembangan teknologi MOF tidak dapat dipisahkan dari metode sintesis konvensional yang telah menjadi dasar pengembangan berbagai jenis kerangka logam-organik hingga saat ini. Dua metode yang paling banyak digunakan adalah solvotermal dan hidrotermal, karena keduanya mampu menghasilkan material dengan tingkat kristalinitas dan keteraturan struktur yang tinggi (Han et al., 2025).
Pada metode solvotermal, prekursor logam dan linker organik dilarutkan dalam pelarut organik dengan titik didih tinggi, seperti dimetilformamida (DMF) atau dietilformamida (DEF). Campuran tersebut kemudian dipanaskan dalam wadah tertutup pada suhu sekitar 80–220 °C selama beberapa jam hingga beberapa hari. Kondisi tekanan dan suhu tinggi memungkinkan atom logam dan molekul organik menyusun diri secara perlahan membentuk jaringan kristalin yang teratur (Pitt et al., 2025; Yi et al., 2024). Keunggulan utama metode solvotermal adalah kemampuannya menghasilkan kristal MOF dengan ukuran dan bentuk yang relatif seragam. Banyak MOF terkenal, termasuk beberapa struktur dengan stabilitas tinggi, pertama kali dikembangkan melalui pendekatan ini. Namun, metode ini memiliki keterbatasan karena sering membutuhkan pelarut organik dalam jumlah besar, konsumsi energi tinggi, serta proses pemurnian yang menghasilkan limbah kimia.
Sebagai alternatif, metode hidrotermal menggunakan air sebagai pelarut utama. Pendekatan ini lebih menarik dari perspektif keberlanjutan karena air merupakan pelarut yang aman, murah, dan ramah lingkungan. Sintesis hidrotermal umumnya berlangsung pada suhu lebih rendah, sekitar 90–120 °C, sehingga kebutuhan energi dapat dikurangi (D’Amato et al., 2021; X. Zhao et al., 2017). Meskipun demikian, penggunaan air sebagai pelarut tidak selalu memberikan hasil optimal. Banyak linker organik memiliki kelarutan rendah dalam air sehingga proses pembentukan kerangka menjadi kurang efisien. Untuk mengatasi masalah tersebut, beberapa strategi telah dikembangkan, seperti penggunaan kosolven (Iram et al., 2024), pelarut ionik (Vaid et al., 2017), metode mekanokimia (D’Amato et al., 2021), sintesis ionotermal (ionothermal synthesis) (Azbell et al., 2023), serta penggunaan surfaktan untuk membantu stabilisasi pembentukan partikel MOF (Leroy et al., 2024).
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa metode konvensional tidak lagi hanya berfokus pada pembentukan kristal berkualitas tinggi, tetapi juga diarahkan agar lebih sesuai dengan prinsip kimia hijau. Modifikasi proses melalui pengurangan penggunaan pelarut berbahaya, optimasi suhu, dan penerapan teknologi pemanasan cepat menjadi langkah penting menuju sintesis MOF yang lebih berkelanjutan.
Sintesis Hijau Ramah Lingkungan MOF
Konsep kimia hijau menekankan bahwa suatu proses kimia idealnya tidak hanya menghasilkan produk yang bermanfaat, tetapi juga dirancang agar mengurangi penggunaan bahan berbahaya, menghemat energi, dan meminimalkan limbah. Prinsip ini kemudian diterapkan dalam pengembangan metode sintesis MOF generasi baru. Salah satu pendekatan yang paling berkembang adalah sintesis berbasis pelarut air. Air tidak hanya berfungsi sebagai media reaksi yang aman, tetapi juga dapat membantu mengontrol pembentukan ikatan koordinasi antara logam dan linker melalui proses hidrolisis yang terkendali. Strategi ini memungkinkan pembentukan struktur MOF dengan dampak lingkungan yang lebih rendah.
Pendekatan lain adalah sintesis tanpa pelarut (solvent-free synthesis). Pada metode ini, prekursor logam dan linker organik dicampurkan secara mekanik menggunakan teknik seperti ball milling. Energi mekanik yang diberikan selama proses penggilingan mampu memicu pembentukan ikatan koordinasi tanpa membutuhkan pelarut tambahan (H. K. Lee et al., 2021; R. Lin et al., 2022). Keunggulan metode ini sangat menarik karena mampu mengurangi limbah cair dan mempercepat waktu sintesis. Beberapa MOF bahkan dapat terbentuk hanya dalam hitungan menit hingga beberapa jam, jauh lebih singkat dibandingkan metode solvotermal tradisional.
Selain itu, teknologi microwave-assisted synthesis juga menjadi pendekatan yang banyak dikembangkan. Pemanasan menggunakan gelombang mikro memberikan distribusi energi yang cepat dan merata sehingga proses pembentukan kristal dapat berlangsung lebih efisien. Metode ini dapat diterapkan menggunakan pelarut yang lebih aman seperti etanol atau campuran air–etanol, sekaligus membantu mengontrol ukuran dan morfologi kristal (Arenas-Vivo et al., 2020; Griffin et al., 2020). Teknik lain yang semakin populer adalah ultrasonikasi. Gelombang ultrasonik menghasilkan fenomena kavitasi yang mempercepat pembentukan inti kristal. Selain mempercepat reaksi, metode ini juga memungkinkan produksi MOF berukuran nano dengan luas permukaan aktif yang lebih besar, suatu karakter yang sangat menguntungkan dalam aplikasi katalisis (Yi et al., 2024).
Secara keseluruhan, sintesis hijau memberikan arah baru dalam pengembangan MOF. Tantangan utama bukan lagi sekadar menghasilkan struktur berpori yang baik, tetapi bagaimana menghasilkan material berkinerja tinggi dengan proses yang lebih aman dan berkelanjutan.
Modifikasi Setelah Sintesis: Mengubah Fungsi MOF Sesuai Kebutuhan
Salah satu keunggulan terbesar MOF dibandingkan material berpori lainnya adalah fleksibilitas untuk dimodifikasi bahkan setelah struktur dasarnya terbentuk. Strategi ini dikenal sebagai post-synthetic modification (PSM).
Melalui PSM, peneliti dapat menambahkan fungsi tertentu tanpa harus membangun ulang seluruh struktur MOF. Pendekatan ini sangat berguna ketika suatu struktur MOF telah memiliki stabilitas dan porositas yang baik, tetapi membutuhkan peningkatan sifat kimia tertentu untuk aplikasi khusus. Modifikasi pasca sintesis dapat dilakukan melalui beberapa cara, seperti pertukaran ligan, pemasangan gugus fungsi baru, atau memasukkan molekul aktif ke dalam rongga pori MOF (Mandal et al., 2020). Misalnya, suatu MOF yang awalnya kurang berinteraksi dengan molekul polar dapat dimodifikasi dengan gugus hidrofilik sehingga kemampuan menangkap substrat polar meningkat.
Selain itu, strategi berbasis prekursor terkontrol juga banyak dikembangkan. Dengan memodifikasi lingkungan kimia prekursor logam sebelum sintesis, laju pembentukan kristal dapat diatur sehingga menghasilkan ukuran dan bentuk kristal yang lebih seragam. Keunggulan utama PSM adalah fleksibilitasnya. Satu jenis MOF dapat dikembangkan menjadi berbagai material dengan fungsi berbeda sesuai kebutuhan reaksi (Gadzikwa & Matseketsa, 2024). Hal ini menjadikan MOF sebagai platform material yang sangat menarik untuk pengembangan katalis generasi berikutnya.
Kombinasi antara desain awal dan modifikasi setelah sintesis memungkinkan peneliti memperoleh sifat katalitik yang sulit dicapai melalui satu pendekatan saja. Dengan strategi ini, MOF dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan berbagai reaksi kimia hijau.
MOF Hierarkis dan Komposit Untuk Meningkatkan Kemampuan Katalis
Salah satu tantangan penggunaan MOF sebagai katalis adalah keterbatasan transportasi molekul di dalam pori, terutama ketika reaksi melibatkan molekul berukuran besar. Untuk mengatasi masalah tersebut, dikembangkan konsep MOF berstruktur hierarkis. MOF hierarkis memiliki kombinasi berbagai ukuran pori, mulai dari mikropori, mesopori, hingga makropori. Keberadaan jaringan pori bertingkat ini menciptakan jalur transportasi molekul yang lebih efisien sehingga reaktan dapat mencapai situs aktif dengan lebih mudah. Struktur semacam ini sangat bermanfaat untuk reaksi kompleks, termasuk konversi biomassa menjadi bahan kimia bernilai tinggi. Pembentukan pori hierarkis dapat dilakukan menggunakan metode hard template, misalnya partikel silika atau polistirena yang kemudian dihilangkan setelah sintesis, maupun soft template menggunakan surfaktan atau polimer (Doustkhah et al., 2021; K. Li et al., 2023; Tan et al., 2025).
Selain rekayasa pori, pendekatan lain adalah membuat komposit MOF dengan menggabungkan MOF bersama material lain seperti oksida logam, karbon berpori, atau polimer konduktif. Penggabungan ini bertujuan memperbaiki kelemahan MOF sekaligus mempertahankan keunggulannya. Material tambahan dapat meningkatkan stabilitas mekanik (Ma et al., 2019), memperbaiki konduktivitas listrik (John et al., 2025), atau memberikan fungsi katalitik baru (Iram et al., 2024; Tong et al., 2019).
Melalui strategi struktur hierarkis dan komposit, MOF dapat dirancang menjadi katalis yang tidak hanya aktif, tetapi juga tahan terhadap kondisi operasi yang lebih berat. Pendekatan ini membuka peluang besar untuk penerapan MOF pada berbagai proses industri berkelanjutan (M. Chen et al., 2024; Weng et al., 2024).
Sintesis merupakan langkah penting untuk menghadirkan MOF dari sebuah rancangan struktur menjadi material nyata dengan fungsi tertentu. Namun, perjalanan MOF sebagai katalis tidak berhenti pada tahap pembuatannya. Kemampuan MOF dalam mempercepat reaksi kimia, meningkatkan selektivitas, dan mendukung proses yang lebih ramah lingkungan ditentukan oleh bagaimana struktur tersebut berinteraksi dengan molekul reaktan. Pembahasan mengenai mekanisme kerja MOF sebagai katalis hijau serta tantangan pengembangannya akan dilanjutkan pada edisi berikutnya.
Daftar Referensi:
Asgharnejad, L., Abbasi, A., Najafi, M., & Janczak, J. (2019). Synthesis and structure of three new alkaline earth metal–organic frameworks with high thermal stability as catalysts for Knoevenagel condensation. Crystal Growth & Design, 19(5), 2679–2686. https://doi.org/10.1021/acs.cgd.8b01810
Azbell, T. J., Pitt, T. A., Bollmeyer, M. M., Cong, C., Lancaster, K. M., & Milner, P. J. (2023). Ionothermal synthesis of metal-organic frameworks using low-melting metal salt precursors. Angewandte Chemie International Edition, 62(17), e202218252. https://doi.org/10.1002/anie.202218252
Bag, P. P., Wang, X.-S., & Cao, R. (2015). Microwave-assisted large scale synthesis of lanthanide metal-organic frameworks (Ln-MOFs), having a preferred conformation and photoluminescence properties. Dalton Transactions, 44(26), 11954–11962. https://doi.org/10.1039/C5DT01598G
Bagi, S. D., Myerson, A. S., & Román-Leshkov, Y. (2021). Solvothermal crystallization kinetics and control of crystal size distribution of MOF-808 in a continuous flow reactor. Crystal Growth & Design, 21(11), 6529–6536. https://doi.org/10.1021/acs.cgd.1c00968
Carpenter, B. P., Talosig, A. R., Rose, B., Di Palma, G., & Patterson, J. P. (2023). Understanding and controlling the nucleation and growth of metal-organic frameworks. Chemical Society Reviews, 52(20), 6918–6937. https://doi.org/10.1039/D3CS00312D
Chen, M., Huang, Y., Wang, Y., Pang, Y., Lou, H., Li, Z., Yang, D., & Qiu, X. (2024). Facile construction of stable hierarchical porous metal–organic frameworks for in situ immobilization of ?-glucosidase based on competitive coordination and selective etching strategies. ACS Sustainable Chemistry & Engineering, 12(17), 6728–6737. https://doi.org/10.1021/acssuschemeng.4c00853
Chen, S., Zhang, Z., Chen, W., Lucier, B. E. G., Chen, M., Zhang, W., Zhu, H., Hung, I., Zheng, A., Gan, Z., Lei, D., & Huang, Y. (2024). Understanding water reaction pathways to control the hydrolytic reactivity of a Zn metal-organic framework. Nature Communications, 15, 10776. https://doi.org/10.1038/s41467-024-54493-7
Dai, S., Tissot, A., & Serre, C. (2021). Metal-organic frameworks: From ambient green synthesis to applications. Bulletin of the Chemical Society of Japan, 94(11), 2623–2636. https://doi.org/10.1246/bcsj.20210276
D’Amato, R., Bondi, R., Moghdad, I., Marmottini, F., McPherson, M. J., Naïli, H., Taddei, M., & Costantino, F. (2021). “Shake ’n bake” route to functionalized Zr-UiO-66 metal-organic frameworks. Inorganic Chemistry, 60(18), 14294–14301. https://doi.org/10.1021/acs.inorgchem.1c01839
Doustkhah, E., Hassandoost, R., Khataee, A., Luque, R., & Assadi, M. H. N. (2021). Hard-templated metal-organic frameworks for advanced applications. Chemical Society Reviews, 50(5), 2927–2953. https://doi.org/10.1039/C9CS00813F
Duan, C., Yu, Y., Xiao, J., Zhang, X., Li, L., Yang, P., Wu, J., & Xi, H. (2020). Water-based routes for synthesis of metal-organic frameworks: A review. Science China Materials, 63(5), 667–685. https://doi.org/10.1007/s40843-019-1264-x
Duan, C., Liang, K., Lin, J., Li, J., Li, L., Kang, L., Yu, Y., & Xi, H. (2021). Application of hierarchically porous metal-organic frameworks in heterogeneous catalysis: A review. Science China Materials, 65(2), 298–320. https://doi.org/10.1007/s40843-021-1910-2
Gadzikwa, T., & Matseketsa, P. (2024). The post-synthesis modification (PSM) of MOFs for catalysis. Dalton Transactions, 53(18), 7659–7668. https://doi.org/10.1039/D4DT00514G
Gómez-Oliveira, E. P., Reinares-Fisac, D., Aguirre-Díaz, L. M., Esteban-Betegón, F., Pintado-Sierra, M., Gutiérrez-Puebla, E., Iglesias, M., Ángeles Monge, M., & Gándara, F. (2022). Framework adaptability and concerted structural response in a bismuth metal-organic framework catalyst. Angewandte Chemie International Edition, 61(37), e202209335. https://doi.org/10.1002/anie.202209335
Griffin, S. L. D., Briuglia, M. L. D., Ter Horst, J. H. P., & Forgan, R. S. (2020). Assessing crystallisation kinetics of Zr metal–organic frameworks through turbidity measurements to inform rapid microwave-assisted synthesis. Chemistry – A European Journal, 26(30), 6910–6918. https://doi.org/10.1002/chem.202000993
Han, G.-Y., Sun, M., Zhao, R., Junaid, Q. M., Hou, G., Mohmand, N. Z. K., Jia, C., Liu, Y., Van Der Voort, P., Shi, L., & Feng, X. (2025). Defect engineered Ti-MOFs and their applications. Chemical Society Reviews, 54. https://doi.org/10.1039/D4CS01007H
Han, W., Shi, M., & Jiang, H.-L. (2025). Scalable and low-energy synthesis of metal-organic frameworks by a seed-mediated approach. Angewandte Chemie International Edition, 64(13), e202421942. https://doi.org/10.1002/anie.202421942
He, T., Kong, X.-J., & Li, J.-R. (2021). Chemically stable metal-organic frameworks: Rational construction and application expansion. Accounts of Chemical Research, 54(15), 3083–3094. https://doi.org/10.1021/acs.accounts.1c00280
Iram, G., Ateeq-Ur-Rehman, A.-U.-R., Iqbal, M. A., Zafar, A., Majeed, A., Hayat, S., & Nawaz, M. (2024). Advanced synthetic routes of metal organic frameworks and their diverse applications. Reviews in Inorganic Chemistry, 44(4), 449–470. https://doi.org/10.1515/revic-2023-0024
Kabtamu, D. M., Wu, Y.-N., & Li, F. (2020). Hierarchically porous metal–organic frameworks: Synthesis strategies, structure(s), and emerging applications in decontamination. Journal of Hazardous Materials, 397, 122765. https://doi.org/10.1016/j.jhazmat.2020.122765
Kochetygov, I., Maggiulli, L., Ranocchiari, M., & Ferri, D. (2024). The mechanism of rapid and green metal–organic framework synthesis by in situ spectroscopy and diffraction. Chemistry of Materials, 36(14), 6877–6887. https://doi.org/10.1021/acs.chemmater.4c00879
Lee, H. K., Lee, J. H., & Moon, H. R. (2021). Mechanochemistry as a reconstruction tool of decomposed metal-organic frameworks. Inorganic Chemistry, 60(16), 11825–11829. https://doi.org/10.1021/acs.inorgchem.1c00610
Lee, S., Xie, H., Chen, Z., Mian, M. R., Gómez-Torres, A., Syed, Z. H., Reischauer, S., Chapman, K. W., Delferro, M., & Farha, O. K. (2024). Metal-organic frameworks as a tunable platform to deconvolute stereoelectronic effects on the catalytic activity of thioanisole oxidation. Journal of the American Chemical Society, 146(6), 3955–3962. https://doi.org/10.1021/jacs.3c11809
Li, G., & Han, Y. (2022). (Referensi lengkap tidak tersedia pada daftar yang diberikan; perlu dilengkapi sebelum dimasukkan ke bibliografi APA 7).
Li, K., Yang, J., Li, C., & Gu, J. (2023). Trimodal hierarchical porous metal–organic frameworks with tunable mesoporous core–shell architectures. ACS Materials Letters, 6(1), 233–239. https://doi.org/10.1021/acsmaterialslett.3c01236
Lin, H., Xu, Y., Wang, B., Li, D.-S., Zhou, T., & Zhang, J. (2022). Postsynthetic modification of metal?organic frameworks for photocatalytic applications. Small Structures, 3(5), 2270018. https://doi.org/10.1002/sstr.202270018
Lin, R., Yao, Y., Zulkifli, M. Y. B., Li, X., Gao, S., Huang, W., Smart, S., Lyu, M., Wang, L., Chen, V., & Hou, J. (2022). Binder-free mechanochemical metal-organic framework nanocrystal coatings. Nanoscale, 14(6), 2221–2229. https://doi.org/10.1039/D1NR08377E
Ma, M., Lu, L., Li, H., Xiong, Y., & Dong, F. (2019). Functional metal organic framework/SiO? nanocomposites: From versatile synthesis to advanced applications. Polymers, 11(11), 1823. https://doi.org/10.3390/polym11111823
Mandal, S., Natarajan, S., Mani, P., & Pankajakshan, A. (2020). Post-synthetic modification of metal–organic frameworks toward applications. Advanced Functional Materials, 31(4), 2006291. https://doi.org/10.1002/adfm.202006291
Marino, P., Donnarumma, P. R., Bicalho, H. A., Quezada-Novoa, V., Titi, H. M., & Howarth, A. J. (2021). A step toward change: A green alternative for the synthesis of metal–organic frameworks. ACS Sustainable Chemistry & Engineering, 9(48), 16356–16362. https://doi.org/10.1021/acssuschemeng.1c06032
Pal, T. K. (2022). Metal–organic frameworks (MOFs) for heterogeneous catalysis. In Metal-organic frameworks for catalysis (pp. 141–153). Springer. https://doi.org/10.1007/978-981-19-2572-6_11
Sailaja, B. B. V., Sridevi, V., Voosala, C., Sirisha, D., Talib Hamzah, H., & Adnan Abdullah, T. (2024). Metal-organic frameworks (MOFs): Fundamental, properties, and applications. In Advanced materials in chemical sciences (pp. 110–134). Iterative International Publishers. https://doi.org/10.58532/v3becs17p3ch5
Samanidou, V. F., & Deliyanni, E. A. (2020). Metal organic frameworks: Synthesis and application. Molecules, 25(4), 960. https://doi.org/10.3390/molecules25040960
Tan, C., He, J., Zhou, F., Xu, R., Gao, Y., Marks, R. S., & Li, J. (2025). CTAB-assisted formation of hierarchical porosity in Cu-BDC-NH? metal–organic frameworks and its enhanced peroxidase-like catalysis. Processes, 13(2), 387. https://doi.org/10.3390/pr13020387
Vaid, T. P., Kelley, S. P., & Rogers, R. D. (2017). Structure-directing effects of ionic liquids in the ionothermal synthesis of metal-organic frameworks. IUCrJ, 4(4), 380–392. https://doi.org/10.1107/S2052252517008326
Yi, J., Lee, G., & Park, S. S. (2024). Solvent-induced structural rearrangement in ultrasound-assisted synthesis of metal-organic frameworks. Small Methods, 8(12), e2400363. https://doi.org/10.1002/smtd.202400363
Zorainy, M. Y., Sheashea, M., Kaliaguine, S., Gobara, M., & Boffito, D. C. (2022). Facile solvothermal synthesis of a MIL-47(V) metal-organic framework for a high-performance epoxy/MOF coating with improved anticorrosion properties. RSC Advances, 12(15), 9008–9022. https://doi.org/10.1039/D1RA08950A