Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Detail Artikel
Mekanisme Katalisis MOF dalam Reaksi Hijau: Fotokatalisis, Biokatalisis, dan Prospek Masa Depan

Mekanisme Katalisis MOF dalam Reaksi Hijau: Fotokatalisis, Biokatalisis, dan Prospek Masa Depan

Penulis: Aisyah, S.Si., M.Si.

(Dosen UIN Alauddin Makassar)

Di tulisan sebelumnya, kita telah melihat bagaimana Metal–Organic Frameworks (MOFs) mempercepat reaksi melalui aktivasi asam–basa dan mekanisme redoks. Kedua mekanisme tersebut menjadi fondasi penting yang menjelaskan mengapa MOF mampu meningkatkan efisiensi dan selektivitas berbagai transformasi kimia. Seiring berkembangnya penelitian, eksplorasi kemampuan MOF terus dilakukan, di antaranya adalah  memanfaatkan energi cahaya sebagai penggerak reaksi (photocatalysis) serta menciptakan lingkungan yang ideal bagi enzim untuk bekerja lebih stabil (biocatalysis). Kedua pendekatan ini tidak hanya memperluas fungsi MOF sebagai katalis, tetapi juga memperkuat perannya dalam mewujudkan proses kimia yang semakin hemat energi, selektif, dan berkelanjutan.

Dua pendekatan ini, yaitu fotokatalisis dan biokatalisis, membuka peluang baru dalam pengembangan proses sintesis yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Alih-alih bergantung pada suhu tinggi atau bahan kimia agresif, reaksi dapat berlangsung dengan bantuan cahaya atau memanfaatkan kemampuan katalitik alami enzim. Inilah salah satu alasan mengapa MOF semakin dipandang sebagai material multifungsi dalam pengembangan teknologi kimia hijau.

Fotokatalisis Mengubah Energi Cahaya Menjadi Energi Kimia

Bila pada panel surya, sinar matahari diubah menjadi listrik. Maka, pada prinsipnya, fotokatalisis bekerja dengan konsep yang serupa, hanya saja energi cahaya digunakan untuk mendorong terjadinya reaksi kimia. Di dalam struktur MOF, proses ini dimulai ketika gugus organik (linker) yang mengandung sistem ikatan π-terkonjugasi menyerap energi cahaya. Penyerapan foton menyebabkan elektron pada linker tereksitasi sehingga terbentuk pasangan elektron–hole, yaitu elektron yang berpindah ke tingkat energi lebih tinggi dan meninggalkan kekosongan elektron pada posisi semula.

Elektron yang tereksitasi kemudian berpindah menuju pusat logam atau situs akseptor elektron, sedangkan hole yang tertinggal pada linker dapat mengoksidasi molekul lain di sekitarnya (Xiao et al., 2018). Dengan demikian, satu foton cahaya mampu memicu dua proses sekaligus: reduksi dan oksidasi. Yang menarik, struktur kristal MOF yang sangat teratur memungkinkan para peneliti mengatur band gap, yaitu selisih energi yang menentukan panjang gelombang cahaya yang dapat diserap material. Melalui rekayasa struktur ini, kemampuan penyerapan cahaya dapat dioptimalkan sehingga lebih banyak energi yang dimanfaatkan untuk menggerakkan reaksi kimia.

MOF Berbasis Titanium yang Meniru Cara Kerja Semikonduktor

Salah satu contoh yang paling banyak dipelajari adalah MIL-125(Ti), yaitu MOF berbasis titanium. Pada material ini, cahaya memicu perpindahan elektron dari ligan tereftalat menuju ion Ti⁴⁺ sehingga terbentuk spesies Ti³⁺ yang sangat reaktif. Elektron tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mereduksi karbon dioksida (CO₂) menjadi karbon monoksida atau metanol. Di sisi lain, hole yang terbentuk pada ligan mengoksidasi molekul donor elektron, misalnya air atau senyawa organik sederhana (Sun & Li, 2017; Priyadarshini et al., 2025).

Secara konsep, mekanisme ini menyerupai cara kerja material semikonduktor. Namun, MOF memiliki keunggulan tambahan berupa jaringan pori yang luas dan teratur sehingga molekul pereaksi dapat bergerak menuju situs aktif dengan lebih mudah. Difusi yang lebih efisien ini memungkinkan lebih banyak molekul bereaksi dalam waktu yang sama, sehingga meningkatkan efisiensi fotokatalisis.

Kemampuan tersebut menjadikan MOF sebagai kandidat penting untuk berbagai aplikasi, mulai dari konversi karbon dioksida, produksi bahan bakar berbasis hidrogen, hingga degradasi polutan organik menggunakan energi cahaya.

MOF Melindungi dan Mengoptimalkan Enzim dalam Reaksi Biokatalisis

Selain memanfaatkan cahaya, MOF juga menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mendukung kerja enzim, yaitu katalis alami yang digunakan oleh hampir seluruh makhluk hidup. Enzim memiliki selektivitas yang sangat tinggi. Sayangnya, molekul protein ini relatif mudah mengalami denaturasi akibat perubahan suhu, pH, atau keberadaan pelarut organik. Akibatnya, banyak enzim kehilangan aktivitasnya ketika digunakan dalam proses industri.

Di sinilah MOF memberikan solusi melalui mekanisme immobilisasi enzim. Enzim tidak dibiarkan berada bebas di dalam larutan. Namun, molekul enzim ditempatkan di dalam pori atau pada permukaan kerangka MOF. Struktur berpori tersebut menciptakan lingkungan mikro yang mampu mempertahankan bentuk tiga dimensi enzim sehingga aktivitas katalitiknya tetap terjaga (An et al., 2020; Ye et al., 2020). Dengan kata lain, MOF berfungsi seperti "rumah pelindung" yang menjaga enzim tetap aktif selama proses reaksi berlangsung.

Lipase dan ZIF-8: Menjaga Enzim Tetap Aktif

Salah satu contoh yang sering digunakan adalah lipase yang diimmobilisasi pada ZIF-8. Dalam sistem ini, molekul substrat memasuki kanal-kanal pori MOF hingga mencapai sisi aktif enzim. Setelah reaksi berlangsung, produk keluar kembali melalui jalur yang sama, sementara struktur MOF tetap mempertahankan konformasi aktif enzim sehingga tidak mudah mengalami denaturasi (Maddigan et al., 2021).

Pendekatan ini memberikan beberapa keuntungan sekaligus. Enzim menjadi lebih stabil, dapat digunakan berulang kali, serta lebih tahan terhadap kondisi operasi yang sebelumnya sulit ditoleransi oleh enzim bebas.

Meningkatkan Transfer Elektron pada Laccase

Contoh lain adalah sistem laccase-MOF, yaitu enzim laccase yang diintegrasikan dengan kerangka MOF. Pada sistem ini, gugus fungsi pada ligan organik berinteraksi langsung dengan residu asam amino penyusun enzim. Interaksi tersebut membantu mempercepat proses transfer elektron selama reaksi oksidasi senyawa fenolik, sehingga aktivitas katalitik meningkat dibandingkan enzim tanpa penyangga MOF (Ren et al., 2023; Zhong et al., 2017).

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa MOF tidak hanya berperan sebagai penyangga mekanis, tetapi juga mampu berkontribusi secara aktif terhadap mekanisme reaksi yang dijalankan oleh enzim.

Mengapa Fotokatalisis dan Biokatalisis Menjadi Arah Masa Depan?

Kemampuan MOF memanfaatkan cahaya dan mendukung kerja enzim memperlihatkan bahwa material ini tidak hanya unggul sebagai katalis konvensional, tetapi juga sebagai platform yang mampu menggabungkan berbagai mekanisme katalitik dalam satu sistem.

Pada fotokatalisis, MOF memungkinkan energi matahari dimanfaatkan untuk mendorong transformasi kimia yang sebelumnya memerlukan energi panas dalam jumlah besar. Sementara itu, pada biokatalisis, MOF membantu mempertahankan aktivitas enzim sehingga proses sintesis dapat berlangsung dengan selektivitas tinggi dan kondisi operasi yang lebih ramah lingkungan.

Kedua pendekatan tersebut semakin memperkuat posisi MOF sebagai salah satu material paling menjanjikan dalam pengembangan katalisis hijau. Fleksibilitas desain, kemampuan memodifikasi struktur, serta kompatibilitasnya dengan berbagai jenis reaksi memberikan peluang besar untuk menghadirkan proses kimia yang lebih efisien, lebih bersih, dan lebih berkelanjutan.

Pada bagian terakhir artikel ini, kita akan membahas sisi lain dari perkembangan MOF, yaitu berbagai tantangan yang masih dihadapi dalam penerapannya pada skala industri serta prospek masa depannya sebagai katalis yang benar-benar mendukung prinsip-prinsip kimia hijau.

Tantangan dan Prospek MOF dalam Mewujudkan Katalisis Hijau

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa Metal–Organic Frameworks (MOFs) memiliki potensi besar sebagai katalis untuk mendukung proses kimia yang lebih efisien dan berkelanjutan. Kemampuannya dalam mengaktifkan substrat, memfasilitasi transfer elektron, memanfaatkan energi cahaya, hingga mendukung kerja enzim menjadikan MOF sebagai salah satu material paling menarik dalam perkembangan kimia modern.

Namun, sebagaimana teknologi baru lainnya, perjalanan MOF menuju aplikasi industri masih menghadapi sejumlah tantangan. Memahami berbagai keterbatasan tersebut sama pentingnya dengan mengapresiasi keunggulannya, karena inovasi ilmiah selalu berkembang melalui proses penyempurnaan yang berkelanjutan.

Stabilitas adalah Tantangan Utama dalam Penerapan MOF

Salah satu persoalan yang masih menjadi perhatian adalah stabilitas struktur MOF ketika digunakan pada kondisi reaksi yang beragam. Beberapa jenis MOF memiliki kerangka kristal yang sensitif terhadap kelembapan, suhu tinggi, maupun lingkungan kimia yang ekstrem. Akibatnya, struktur dapat mengalami degradasi atau bahkan runtuh setelah digunakan berulang kali, sehingga aktivitas katalitiknya menurun (Xie & Hou, 2025).

Bagi aplikasi laboratorium, kondisi ini mungkin masih dapat dikendalikan. Namun, pada skala industri, katalis dituntut mampu mempertahankan performanya dalam waktu lama dan melalui banyak siklus penggunaan. Oleh karena itu, peningkatan stabilitas material menjadi salah satu fokus utama penelitian MOF saat ini.

Apakah Sintesis MOF Sudah Sepenuhnya Hijau?

Pertanyaan lain yang sering muncul adalah: jika MOF ditujukan untuk mendukung kimia hijau, apakah proses pembuatannya sendiri sudah benar-benar ramah lingkungan? Jawabannya adalah, belum sepenuhnya. Beberapa metode sintesis MOF masih menggunakan pelarut organik seperti N,N-dimethylformamide (DMF). Meskipun efektif membantu pembentukan kristal MOF, pelarut ini memiliki risiko toksisitas dan menghasilkan limbah yang memerlukan penanganan khusus (Hong et al., 2024; Wegner et al., 2021).

Selain itu, beberapa MOF memanfaatkan logam seperti kadmium (Cd), kromium (Cr), atau unsur tanah jarang. Walaupun memberikan sifat katalitik tertentu, penggunaan logam-logam tersebut menimbulkan persoalan keberlanjutan karena bersifat toksik, relatif mahal, dan ketersediaannya terbatas (Jannetto & Cowl, 2023).

Tantangan berikutnya berkaitan dengan kebutuhan energi selama proses sintesis. Beberapa metode masih memerlukan suhu tinggi atau waktu reaksi yang panjang sehingga konsumsi energinya belum sepenuhnya sesuai dengan prinsip efisiensi energi dalam kimia hijau (Singh et al., 2025).

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa pengembangan MOF tidak hanya berfokus pada peningkatan performa katalitik, tetapi juga pada upaya menjadikan seluruh siklus hidup material lebih berkelanjutan (Dutta et al., 2024; Rastin et al., 2025).

Menuju Sintesis MOF yang Lebih Ramah Lingkungan

Kabar baiknya, berbagai penelitian terbaru mulai menawarkan solusi atas tantangan tersebut. Salah satu arah pengembangan yang berkembang pesat adalah penggunaan metode sintesis hijau, seperti sintesis berbasis air, iradiasi gelombang mikro (microwave-assisted synthesis), maupun sonikasi. Pendekatan ini mampu mengurangi penggunaan pelarut organik berbahaya sekaligus mempercepat proses pembentukan kristal MOF (Duan et al., 2020; Obeso et al., 2025).

Di sisi lain, penelitian juga terus merancang MOF dengan struktur yang lebih stabil melalui rekayasa molekuler. Pemilihan jenis logam, modifikasi ligan organik, serta pengaturan ikatan antarunit penyusun dilakukan untuk menghasilkan material yang lebih tahan terhadap suhu, kelembapan, maupun kondisi reaksi yang berat. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konsep kimia hijau kini tidak hanya diterapkan pada tahap penggunaan katalis, tetapi juga mulai menjadi pertimbangan sejak proses sintesis material itu sendiri.

Peran Kecerdasan Buatan dalam Merancang MOF Generasi Baru

Salah satu perkembangan paling menarik dalam beberapa tahun terakhir adalah masuknya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) ke dalam penelitian MOF. Selama bertahun-tahun, pengembangan MOF dilakukan melalui pendekatan trial and error, yaitu mencoba berbagai kombinasi logam dan ligan hingga diperoleh material dengan sifat yang diinginkan. Meskipun berhasil menghasilkan ribuan jenis MOF, pendekatan tersebut memerlukan waktu, biaya, dan sumber daya yang besar.

Kini, perkembangan komputasi kimia dan AI mulai mengubah cara tersebut. Dengan memanfaatkan data eksperimen yang telah tersedia, algoritma pembelajaran mesin mampu memprediksi kombinasi logam, ligan, ukuran pori, maupun sifat elektronik yang paling sesuai untuk aplikasi tertentu sebelum material benar-benar disintesis di laboratorium (Nadeem et al., 2025; Zhao et al., 2025). Pendekatan berbasis data ini tidak hanya mempercepat proses penemuan material baru, tetapi juga mengurangi jumlah percobaan yang tidak diperlukan. Hasilnya adalah proses penelitian yang lebih efisien, lebih hemat sumber daya, dan lebih sejalan dengan prinsip keberlanjutan.

MOF dan Masa Depan Kimia Hijau

Perjalanan penelitian MOF masih terus berkembang, tetapi arah yang ditunjukkan sangat menjanjikan. Integrasi antara sintesis hijau, rekayasa molekuler, simulasi komputasi, dan kecerdasan buatan membuka peluang untuk menghasilkan material dengan kinerja yang semakin baik dan dampak lingkungan yang semakin kecil.

Di masa depan, MOF diperkirakan tidak hanya menjadi katalis untuk berbagai reaksi organik, tetapi juga berperan dalam pemanfaatan karbon dioksida, produksi energi bersih, degradasi polutan, penyimpanan energi, hingga pengembangan teknologi industri yang lebih berkelanjutan.

Penutup

Perkembangan Metal–Organic Frameworks (MOFs) menunjukkan bagaimana inovasi dalam ilmu material dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penerapan prinsip-prinsip kimia hijau. Melalui kombinasi pusat logam dan ligan organik yang dapat direkayasa secara presisi, MOF menghadirkan platform katalitik yang mampu mengakomodasi berbagai mekanisme reaksi, mulai dari aktivasi asam–basa, katalisis redoks, fotokatalisis, hingga biokatalisis.

Keunggulan tersebut memungkinkan berbagai transformasi kimia berlangsung dengan selektivitas yang tinggi, konsumsi energi yang lebih rendah, serta pembentukan limbah yang lebih sedikit. Berbagai contoh aplikasi, seperti reaksi multikomponen, oksidasi selektif, hidrogenasi, dan konversi karbon dioksida menjadi produk bernilai tambah, semakin memperlihatkan bahwa MOF bukan sekadar material baru, melainkan fondasi penting bagi pengembangan katalisis modern yang lebih berkelanjutan.

Meskipun demikian, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi, terutama terkait stabilitas material, keberlanjutan proses sintesis, serta aspek ekonomi dalam produksi skala besar. Tantangan tersebut menjadi pengingat bahwa penerapan kimia hijau tidak hanya diukur dari kinerja suatu katalis, tetapi juga dari keseluruhan siklus hidup material yang digunakan. Dengan dukungan penelitian multidisiplin yang menggabungkan sintesis material, karakterisasi lanjutan, pemodelan komputasi, dan kecerdasan buatan, MOF diperkirakan akan terus berkembang menjadi katalis generasi berikutnya. Material ini berpotensi memainkan peran penting dalam mewujudkan proses kimia yang lebih efisien, adaptif, dan berwawasan lingkungan, sekaligus memperkuat kontribusi ilmu kimia dalam menjawab berbagai tantangan keberlanjutan di masa depan.

Daftar Pustaka

An, H., Song, J., Wang, T., Xiao, N., Zhang, Z., Cheng, P., Ma, S., Huang, H., & Chen, Y. (2020). Metal–Organic Framework Disintegrants: Enzyme Preparation Platforms with Boosted Activity. Angewandte Chemie International Edition, 59(38), 16764–16769. https://doi.org/10.1002/anie.202007827

Duan, C., Yu, Y., Xiao, J., Zhang, X., Li, L., Yang, P., Wu, J., & Xi, H. (2020). Water-based routes for synthesis of metal-organic frameworks: A review. Science China Materials, 63(5), 667–685. https://doi.org/10.1007/s40843-019-1264-x

Dutta, S., Walden, M., Sinelshchikova, A., Ettlinger, R., Lizundia, E., & Wuttke, S. (2024). Cradle‐to‐Gate Environmental Impact Assessment of Commercially Available Metal‐Organic Frameworks Manufacturing. Advanced Functional Materials, 34(52). https://doi.org/10.1002/adfm.202410751

Hong, S.-J., Zhang, X.-N., Sun, Z., & Zeng, T. (2024). The potential health risks of N,N-dimethylformamide: An updated review. Journal of Applied Toxicology : JAT, 44(11), 1637–1646. https://doi.org/10.1002/jat.4590

Jannetto, P. J., & Cowl, C. T. (2023). Elementary Overview of Heavy Metals. Clinical Chemistry, 69(4), 336–349. https://doi.org/10.1093/clinchem/hvad022

John, C., Sunajadevi, K. R. P., Pinheiro, D., & Vishwanath, R. S. (2025). MXene@MOF Composites: Converging Synthesis Strategies, Structural Features, and Emerging Applications. Chemistry (Weinheim an Der Bergstrasse, Germany), e02884. https://doi.org/10.1002/chem.202502884

Maddigan, N. K., Linder-Patton, O. M., Falcaro, P., Sumby, C. J., Bell, S. G., & Doonan, C. J. (2021). Influence of the Synthesis and Storage Conditions on the Activity of Candida antarctica Lipase B ZIF-8 Biocomposites. ACS Applied Materials & Interfaces, 13(44), 51867–51875. https://doi.org/10.1021/acsami.1c04785

Nadeem, T. B., Imran, M., & Tandis, E. (2025). Applications of MOF-Based Nanocomposites in Heat Exchangers: Innovations, Challenges, and Future Directions. Nanomaterials (Basel, Switzerland), 15(3), 205. https://doi.org/10.3390/nano15030205

Obeso, J. L., Flores, C. V., Gutiérrez, A. G., Leyva, C., Valdivia‐Corona, J. C., Herrera‐Zúñiga, L. D., De Los Reyes, J. A., Peralta, R. A., & Ibarra, I. A. (2025). Low‐toxicity metal–organic frameworks: Sustainable solutions for versatile applications. Bulletin of the Korean Chemical Society, 46(3), 265–280. https://doi.org/10.1002/bkcs.70005

Priyadarshini, P., Mishra, A., Nayak, S., & Parida, K. (2025). NH2-MIL-125(Ti) and its functional nanomaterials - a versatile platform in the photocatalytic arena. Nanoscale, 17(9), 4906–4957. https://doi.org/10.1039/d4nr03774j

Rastin, H., Dell’Angelo, D., Sayede, A., Badawi, M., & Habibzadeh, S. (2025). Green and sustainable metal-organic frameworks (MOFs) in wastewater treatment: A review. Environmental Research, 282, 122087. https://doi.org/10.1016/j.envres.2025.122087

Ren, S., Wang, F., Gao, H., Han, X., Zhang, T., Yuan, Y., & Zhou, Z. (2023). Recent Progress and Future Prospects of Laccase Immobilization on MOF Supports for Industrial Applications. Applied Biochemistry and Biotechnology, 196(3), 1669–1684. https://doi.org/10.1007/s12010-023-04607-6

Singh, P., Panwar, S., & Dave, P. N. (2025). Advancing Environmental Remediation with Metal–Organic Frameworks: Perspectives on Green Synthesis, Scale‐Up Strategies, Techno‐Economic Analysis, and Life Cycle Assessment. Advanced Materials Technologies, 11(3). https://doi.org/10.1002/admt.202501309

Sun, D., & Li, Z. (2017). Robust Ti‐ and Zr‐Based Metal‐Organic Frameworks for Photocatalysis. Chinese Journal of Chemistry, 35(2), 135–147. https://doi.org/10.1002/cjoc.201600647

Wegner, K., Barnes, D., Manzor, K., Jardine, A., & Moran, D. (2021). Evaluation of greener solvents for solid-phase peptide synthesis. Green Chemistry Letters and Reviews, 14(1), 153–164. https://doi.org/10.1080/17518253.2021.1877363

Xiao, J.-D., Li, D., & Jiang, H.-L. (2018). Metal-organic frameworks for photocatalysis. SCIENTIA SINICA Chimica, 48(9), 1058–1075. https://doi.org/10.1360/n032018-00035

Xie, Z., & Hou, J. (2025). Industrialising Metal–Organic Frameworks─Bridging Laboratory Innovation and Future Applications. Industrial & Engineering Chemistry Research, 64(16), 7941–7955. https://doi.org/10.1021/acs.iecr.5c00579

Ye, N., Kou, X., Shen, J., Huang, S., Chen, G., & Ouyang, G. (2020). Metal-Organic Frameworks: A New Platform for Enzyme Immobilization. ChemBioChem, 21(18), 2585–2590. https://doi.org/10.1002/cbic.202000095

Zhao, Y., Zhao, Y., Wang, J., & Wang, Z. (2025). Artificial Intelligence Meets Laboratory Automation in Discovery and Synthesis of Metal–Organic Frameworks: A Review. Industrial & Engineering Chemistry Research, 64(9), 4637–4668. https://doi.org/10.1021/acs.iecr.4c04636

Zhong, Z., Pang, S., Wu, Y., Jiang, S., & Ouyang, J. (2017). Synthesis and characterization of mesoporous Cu–MOF for laccase immobilization. Journal of Chemical Technology & Biotechnology, 92(7), 1841–1847. https://doi.org/10.1002/jctb.5189