Meningkatkan Mutu Praktikum Kimia Instrumen Evaluasi Komprehensif Berbasis Model CIPP di UIN Alauddin Makassar
Penulis: Awaluddin Iwan Perdana, S.Si., M.Si
Praktikum kimia instrumen merupakan jantung dari pendidikan tinggi kimia, di mana mahasiswa tidak hanya mempelajari teori analitik, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengaplikasikan prinsip tersebut secara langsung melalui instrumen canggih. Pembelajaran ini sangat krusial untuk membekali lulusan dengan keterampilan teknis yang siap menjawab kebutuhan industri dan dunia riset modern. Namun, mengelola praktikum yang berkualitas di Indonesia memiliki tantangan tersendiri, mulai dari ketersediaan fasilitas hingga standardisasi sistem evaluasi.
Untuk memastikan mutu pembelajaran tetap optimal, sebuah penelitian terbaru mengevaluasi pelaksanaan praktikum Kimia Instrumen di Jurusan Kimia UIN Alauddin Makassar pada Tahun Akademik 2025-2026. Penelitian yang melibatkan seluruh 50 mahasiswa praktikan ini menerapkan pendekatan evaluasi holistik CIPP (Context, Input, Process, Product) yang dikembangkan oleh Stufflebeam.
Hasil Evaluasi: Kualitas yang Patut Dibanggakan
Berdasarkan survei yang dilakukan dengan instrumen yang terbukti 100% valid dan sangat reliabel (Cronbach's Alpha 0,96), pelaksanaan praktikum di UIN Alauddin Makassar secara umum meraih predikat yang sangat menggembirakan. Keempat dimensi CIPP menunjukkan angka capaian yang impresif:
• Konteks (Context) - 96,23% (Sangat Baik): Kebutuhan dan tujuan praktikum dinilai sangat relevan dan selaras dengan kurikulum serta kompetensi dasar.
• Masukan (Input) - 89,92% (Baik): Kualifikasi dosen pengampu dan fasilitas infrastruktur laboratorium telah memenuhi standar yang memadai.
• Proses (Process) - 92,29% (Baik): Metode instruksional dan media pembelajaran berjalan dengan sangat efektif dan efisien selama praktikum.
• Produk (Product) - 81,38% (Baik): Menunjukkan hasil belajar mahasiswa dan capaian kompetensi praktik yang memuaskan secara agregat.
Mengurai Kesenjangan: Tantangan Menuju Authentic Assessment
Di balik angka-angka yang positif tersebut, riset ini menemukan sebuah catatan penting yang harus menjadi perhatian para akademisi, yaitu adanya kesenjangan (gap) sebesar 10,91 poin persentase antara dimensi Proses (92,29%) dan Produk (81,38%). Kesenjangan ini mencerminkan fenomena "theory-practice gap", di mana efektivitas pelaksanaan pembelajaran ternyata belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penguasaan kompetensi praktis sesungguhnya dari mahasiswa.
Hal ini dapat terjadi karena mahasiswa mungkin mampu mengikuti prosedur operasi alat-alat seperti HPLC atau GC-MS layaknya resep, namun masih kesulitan saat dituntut untuk berpikir analitis, memecahkan masalah mandiri, atau mendemonstrasikan integrasi teori-praktik. Selain itu, metode evaluasi lama yang seringkali menitikberatkan pada laporan tertulis atau akurasi numerik kemungkinan belum sepenuhnya mampu menangkap kompleksitas skill mahasiswa.
Rekomendasi Peningkatan Mutu
Untuk terus meningkatkan kualitas agar sejajar dengan standar akreditasi internasional dari badan seperti ACS (American Chemical Society), FECS, dan ABET, perbaikan pada instrumen penilaian menjadi langkah strategis yang direkomendasikan. Program studi disarankan untuk mulai beralih menuju pendekatan penilaian autentik (authentic assessment), khususnya dengan menerapkan asesmen kompetensi praktik secara langsung (Direct Assessment of Practical Skills).
Melalui evaluasi yang terus disempurnakan dan mekanisme umpan balik (feedback) yang terstruktur dari dosen, mahasiswa diharapkan tidak sekadar menjadi operator mesin, melainkan tumbuh menjadi ilmuwan kimia analitik profesional yang memiliki etos ilmiah tangguh dan berdaya saing global.