Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Detail Artikel
Mekanisme Katalisis MOF dalam Reaksi Hijau: Aktivasi Asam Basa dan Mekanisme Reaksi Redoks

Mekanisme Katalisis MOF dalam Reaksi Hijau: Aktivasi Asam Basa dan Mekanisme Reaksi Redoks

Penulis: Aisyah, S.Si., M.Si.

(Dosen UIN Alauddin Makassar)


"Bagaimana satu material mampu mempercepat reaksi kimia, menghemat energi, mengurangi limbah, sekaligus dapat digunakan berulang kali? Salah satu jawabannya adalah Metal–Organic Frameworks (MOFs)."

Konsep kimia hijau (green chemistry) telah mengubah cara para ilmuwan merancang proses sintesis kimia. Tidak lagi sekadar mengejar hasil reaksi yang tinggi, penelitian modern kini juga berupaya menghasilkan proses yang lebih hemat energi, menghasilkan limbah seminimal mungkin, serta menggunakan bahan yang lebih aman bagi manusia dan lingkungan. Di antara berbagai inovasi yang berkembang, Metal–Organic Frameworks (MOFs) muncul sebagai salah satu material yang paling menjanjikan. Material berpori ini dibangun dari kombinasi ion logam dan ligan organik yang membentuk struktur tiga dimensi dengan luas permukaan sangat besar. Keunikan tersebut menjadikan MOF bukan hanya sebagai material penyerap (adsorben), tetapi juga sebagai katalis heterogen yang mampu mempercepat berbagai reaksi kimia secara lebih efisien.

Keunggulan MOF tidak hanya berasal dari porositasnya yang tinggi. Yang lebih menarik, struktur MOF dapat dirancang secara presisi sehingga pusat logam dan ligan organiknya bekerja secara sinergis membentuk situs aktif multifungsi. Melalui desain ini, reaksi kimia dapat berlangsung dengan selektivitas yang tinggi, efisiensi atom yang lebih baik, serta pembentukan produk samping yang lebih sedikit (Duan et al., 2021; Liu et al., 2025). Selain itu, banyak MOF dapat digunakan kembali dalam beberapa siklus reaksi dan tetap aktif pada kondisi yang relatif ringan, sehingga sejalan dengan prinsip-prinsip utama kimia hijau (Gadzikwa & Matseketsa, 2024; Wu & Zhao, 2017; Zhao et al., 2025). Lalu, bagaimana sebenarnya MOF bekerja sebagai katalis? Apa yang membuat material ini mampu mempercepat reaksi yang bahkan sulit dicapai oleh katalis konvensional? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami mekanisme katalisis yang berlangsung di dalam struktur MOF.

Mengapa MOF Menjadi Katalis yang Istimewa?

Secara sederhana, katalis adalah zat yang mempercepat laju reaksi tanpa habis bereaksi. Pada katalis konvensional, proses ini umumnya hanya bergantung pada satu jenis situs aktif. Sebaliknya, MOF menawarkan lingkungan reaksi yang jauh lebih kompleks dan terorganisasi. Struktur berpori MOF memungkinkan molekul-molekul reaktan masuk ke dalam jaringan porinya, kemudian berinteraksi dengan pusat logam maupun gugus organik yang telah dirancang memiliki fungsi tertentu. Kondisi ini menciptakan suatu mikrolingkungan reaksi (microenvironment) yang menyerupai cara kerja enzim di alam, yaitu menyediakan ruang khusus agar reaksi berlangsung lebih cepat dan lebih selektif.

Keunggulan lainnya adalah kemampuan para peneliti untuk memodifikasi hampir seluruh komponen penyusun MOF. Jenis logam dapat diganti sesuai kebutuhan, ligan organik dapat dimodifikasi dengan berbagai gugus fungsi, bahkan ukuran pori dan bentuk salurannya pun dapat diatur. Fleksibilitas desain inilah yang membuat MOF sering disebut sebagai material katalis yang dapat diprogram (programmable catalyst). Melalui pendekatan tersebut, satu jenis MOF dapat dioptimalkan untuk mempercepat reaksi kondensasi, sementara jenis lainnya lebih sesuai digunakan pada reaksi oksidasi, reduksi, fotokatalisis, maupun biokatalisis. Kemampuan adaptif ini menjadi salah satu alasan mengapa MOF kini menjadi fokus utama penelitian katalisis di berbagai laboratorium dunia.

Aktivasi Substrat, Langkah Awal yang Menentukan Keberhasilan Reaksi

Salah satu mekanisme paling mendasar dalam katalisis MOF adalah aktivasi substrat. Pada tahap ini, MOF membantu "mempersiapkan" molekul pereaksi agar lebih mudah mengalami transformasi kimia. Bayangkan sebuah reaksi sebagai proses membuka pintu yang terkunci rapat. Tanpa bantuan katalis, diperlukan energi yang besar untuk membuka pintu tersebut. Kehadiran MOF ibarat menyediakan kunci yang tepat sehingga pintu dapat dibuka dengan usaha yang jauh lebih kecil. Dalam ilmu kimia, energi yang berhasil diturunkan ini dikenal sebagai energi aktivasi.

Pada banyak MOF, pusat logam berfungsi sebagai asam Lewis, yaitu menerima pasangan elektron dari molekul reaktan, terutama gugus karbonil atau atom hetero seperti oksigen dan nitrogen. Di sisi lain, ligan organik atau gugus fungsi tertentu pada kerangka MOF dapat bertindak sebagai basa Brønsted, yaitu mendonorkan elektron atau menerima proton sesuai kebutuhan reaksi (Behera et al., 2024; Cirujano & Llabrés i Xamena, 2020).

Kombinasi kedua fungsi tersebut menghasilkan katalis bifungsional, yaitu katalis yang memiliki dua jenis situs aktif yang bekerja secara bersamaan (Xu et al., 2023). Pendekatan ini sangat menguntungkan karena beberapa tahapan reaksi dapat berlangsung secara simultan tanpa memerlukan katalis tambahan.

Kolaborasi  Dua Situs Aktif pada MOF

Salah satu contoh yang banyak dipelajari adalah MOF berbasis zirkonium, seperti UiO-66. Material ini menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam berbagai reaksi kondensasi antara aldehida dan alkohol.

Pada mekanisme tersebut, ion Zr⁴⁺ terlebih dahulu berikatan dengan gugus karbonil sehingga molekul menjadi lebih reaktif. Sementara itu, gugus hidroksil (–OH) yang terdapat pada ligan membantu menstabilkan spesies antara (intermediate) dan keadaan transisi (transition state). Akibatnya, jalur reaksi menjadi lebih singkat dan energi yang diperlukan semakin rendah (Sittiwong et al., 2021).

Penelitian menunjukkan bahwa mekanisme asam–basa ganda ini mampu mempercepat pembentukan intermediat kationik sekaligus mempertahankan kestabilan keadaan transisi yang umumnya sulit dicapai oleh katalis homogen konvensional (Zhang et al., 2020).

Tidak hanya itu, struktur berpori UiO-66 juga memungkinkan molekul pereaksi berdifusi dengan lebih mudah menuju situs aktif. Dengan demikian, setiap molekul memiliki peluang lebih besar untuk bereaksi secara efisien (Yang et al., 2018; Yoskamtorn et al., 2021).

Prinsip Kimia Hijau Sejak Tahap Awal Reaksi

Kemampuan MOF mengaktifkan substrat memberikan dampak yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar meningkatkan kecepatan reaksi. Reaksi yang berlangsung lebih efisien umumnya memerlukan suhu yang lebih rendah, waktu reaksi yang lebih singkat, serta jumlah pelarut yang lebih sedikit.Keunggulan tersebut sangat penting terutama pada reaksi multikomponen (Multicomponent Reactions/MCRs), yaitu reaksi yang menggabungkan beberapa pereaksi dalam satu tahap sintesis. Pendekatan ini mampu mengurangi jumlah tahapan pemurnian, menekan konsumsi energi, serta meminimalkan pembentukan limbah kimia. Dengan kata lain, sejak langkah pertama mekanisme katalisis berlangsung, MOF telah menunjukkan karakteristik yang selaras dengan prinsip-prinsip kimia hijau: meningkatkan efisiensi atom, mengurangi penggunaan bahan tambahan, dan menghasilkan proses sintesis yang lebih berkelanjutan.

Pada bagian berikutnya, kita akan melihat bagaimana kemampuan MOF berkembang lebih jauh melalui mekanisme katalisis redoks, yaitu proses yang melibatkan perpindahan elektron untuk menghasilkan berbagai transformasi kimia penting, mulai dari oksidasi alkohol hingga reduksi karbon dioksida menjadi senyawa bernilai tambah.

MOF Sebagai Mediator Transfer Elektron dalam Katalisis Redoks

Jika mekanisme aktivasi substrat membantu "mempersiapkan" molekul agar lebih mudah bereaksi, maka katalisis redoks bekerja melalui mekanisme yang berbeda. Pada proses ini, pusat logam di dalam MOF berperan sebagai mediator perpindahan elektron yang memungkinkan suatu molekul mengalami oksidasi atau reduksi secara lebih efisien.

Reaksi oksidasi–reduksi (redoks) merupakan salah satu jenis transformasi kimia yang paling banyak digunakan dalam industri. Produksi bahan kimia, sintesis senyawa farmasi, pengolahan biomassa, hingga konversi karbon dioksida menjadi bahan bakar alternatif semuanya melibatkan perpindahan elektron. Tantangannya, reaksi-reaksi tersebut sering kali memerlukan kondisi operasi yang keras, seperti suhu tinggi, tekanan besar, atau penggunaan oksidator dan reduktan yang kurang ramah lingkungan.

Di sinilah MOF menawarkan pendekatan yang berbeda. Struktur berporinya tidak hanya menjaga penyebaran pusat logam tetap homogen, tetapi juga menyediakan jalur yang memudahkan perpindahan elektron. Hasilnya, berbagai reaksi redoks dapat berlangsung pada kondisi yang lebih ringan dengan selektivitas yang lebih tinggi.

Bagaimana MOF Menjalankan Siklus Redoks?

Inti dari mekanisme ini terletak pada kemampuan logam penyusun MOF untuk berubah bilangan oksidasi secara reversibel. Selama reaksi berlangsung, pusat logam menerima elektron dari suatu molekul, kemudian melepaskannya kembali kepada molekul lain sebelum akhirnya kembali ke keadaan semula. Siklus ini dapat terjadi berulang kali tanpa menyebabkan katalis habis bereaksi.

Sebagai ilustrasi, pada oksidasi alkohol aromatik menjadi aldehida menggunakan Fe-MOF, ion Fe³⁺ terlebih dahulu menerima elektron dari molekul alkohol sehingga berubah menjadi Fe²⁺. Selanjutnya, hidrogen peroksida (H₂O₂) mengoksidasi kembali Fe²⁺ menjadi Fe³⁺ sehingga siklus katalitik dapat berlangsung secara terus-menerus. Mekanisme ini menghasilkan konversi yang tinggi dengan pembentukan produk samping yang relatif sedikit (Ding et al., 2019).

Kemampuan melakukan siklus oksidasi–reduksi secara berulang inilah yang menjadikan MOF sebagai katalis heterogen yang efisien sekaligus mudah digunakan kembali. Contoh lain dapat ditemukan pada Cu-MOF yang digunakan dalam reduksi senyawa nitroaromatik menjadi amina. Senyawa amina merupakan bahan baku penting dalam sintesis obat-obatan, zat warna, pestisida, maupun berbagai bahan kimia industri. Pada mekanisme ini, ion Cu²⁺ terlebih dahulu direduksi menjadi Cu⁺ oleh donor hidrogen. Selanjutnya, pusat Cu⁺ mentransfer elektron secara bertahap menuju gugus nitro hingga akhirnya terbentuk gugus amina (Wang et al., 2023).

Yang menarik, struktur MOF menjaga setiap pusat logam tetap terdistribusi secara merata di seluruh kerangka material. Dengan demikian, setiap situs aktif dapat bekerja secara optimal tanpa mengalami penggumpalan (agglomeration) yang sering menjadi masalah pada katalis logam konvensional (Qiao et al., 2020).

Sinergi Dua Logam dalam Satu Struktur MOF

Perkembangan penelitian terbaru menunjukkan bahwa satu jenis logam saja sering kali belum cukup untuk menghasilkan performa katalitik terbaik. Oleh karena itu, banyak peneliti mulai mengembangkan MOF bimetalik, yaitu MOF yang mengandung dua jenis logam berbeda dalam satu kerangka. Sebagai contoh, kombinasi besi (Fe) dan tembaga (Cu) memungkinkan pembagian tugas di antara kedua logam tersebut. Salah satu logam berperan mengaktifkan oksidator, sedangkan logam lainnya mengaktifkan substrat yang akan bereaksi (Qiao et al., 2019). Pembagian fungsi tersebut menciptakan efek sinergis yang mampu mempercepat reaksi sekaligus meningkatkan kestabilan struktur MOF selama digunakan berulang kali. Dengan pendekatan ini, jenis reaksi redoks yang dapat difasilitasi juga menjadi semakin beragam.

Aplikasi Katalisis Redoks Berbasis MOF

Keunggulan mekanisme redoks tidak hanya dibuktikan melalui kajian laboratorium, tetapi juga telah diterapkan pada berbagai transformasi kimia yang memiliki nilai ekonomi dan lingkungan.

1. Oksidasi Selektif Toluena Menjadi Benzaldehida

Salah satu contoh menarik adalah oksidasi selektif toluena menjadi benzaldehida menggunakan MIL-101(Fe). Reaksi ini dapat berlangsung pada suhu dan tekanan ruang, suatu kondisi yang jauh lebih hemat energi dibandingkan banyak proses oksidasi konvensional. Efisiensi tersebut dicapai karena aktivasi ikatan C(sp³)–H berlangsung melalui radikal klorin yang dihasilkan dari ion klorida yang terkoordinasi di dalam struktur MOF. Tahap inilah yang menjadi penentu laju reaksi sehingga sangat memengaruhi keberhasilan proses oksidasi (Wu et al., 2024).

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa struktur MOF bukan sekadar tempat melekatnya logam aktif, tetapi juga mampu mengendalikan jalannya mekanisme reaksi secara lebih spesifik.

2. Mengubah Karbon Dioksida Menjadi Produk Bernilai Tambah

Salah satu tantangan terbesar dalam kimia modern adalah bagaimana memanfaatkan karbon dioksida (CO₂) sebagai bahan baku, bukan sekadar menganggapnya sebagai limbah. Pada sistem Cu-BTC, molekul CO₂ terlebih dahulu berinteraksi dengan pusat Cu²⁺ sebelum mengalami aktivasi melalui transfer elektron yang berasal dari hidrogen. Proses ini membuka jalur konversi menuju senyawa bernilai tambah seperti metanol.

Pengembangan lebih lanjut menghasilkan komposit CuO/ZnO/Cu-BTC yang menunjukkan aktivitas katalitik lebih tinggi, ketahanan yang lebih baik terhadap deaktivasi, serta stabilitas yang tetap terjaga pada suhu tinggi dibandingkan katalis CuO/ZnO konvensional (Yu et al., 2020). Pendekatan ini menjadi salah satu contoh bagaimana MOF dapat berkontribusi pada strategi pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung pemanfaatan karbon sebagai sumber bahan baku kimia.

3. Hidrogenasi yang Lebih Selektif

Dalam banyak proses sintesis organik, tantangan utama bukan hanya mempercepat reaksi, tetapi juga memastikan bahwa hanya gugus fungsi tertentu yang bereaksi. Katalis Pd/MOF memberikan contoh yang sangat baik mengenai kemampuan tersebut. Pada hidrogenasi alkena, nanopartikel paladium yang terdispersi secara homogen di dalam pori MOF mampu menghidrogenasi ikatan rangkap karbon–karbon tanpa mengganggu gugus karbonil yang juga terdapat dalam molekul.

Lingkungan mikro yang dibentuk oleh kerangka MOF menciptakan kontrol spasial terhadap molekul reaktan sehingga reaksi berlangsung dengan selektivitas yang tinggi (Yamada et al., 2020). Pada hidrogenasi stirena, sistem ini bahkan mampu memberikan efisiensi tinggi pada kondisi operasi yang relatif ringan (Zhong et al., 2019).

Mengapa Mekanisme Redoks MOF Penting bagi Kimia Hijau?

Dari berbagai contoh tersebut terlihat bahwa peran MOF jauh melampaui fungsi katalis konvensional. Material ini bukan hanya mempercepat laju reaksi, tetapi juga mengarahkan jalannya transformasi kimia agar lebih selektif, lebih hemat energi, dan menghasilkan limbah yang lebih sedikit.

Kemampuan mengontrol perpindahan elektron melalui pusat logam yang terorganisasi menjadikan MOF sebagai platform yang sangat fleksibel untuk berbagai jenis reaksi redoks. Fleksibilitas ini membuka peluang besar bagi pengembangan proses sintesis yang lebih berkelanjutan, baik di laboratorium maupun pada skala industri.

Pada bagian berikutnya, pembahasan akan beralih ke mekanisme yang memanfaatkan energi cahaya dan sistem biologis. Di sinilah MOF menunjukkan kemampuan lain yang tidak kalah menarik, yaitu sebagai fotokatalis dan pendukung biokatalis, dua pendekatan yang semakin penting dalam pengembangan teknologi kimia hijau modern.

Daftar Pustaka

Behera, J., Pal, A., Sahoo, R., & Das, M. C. (2024). Variation in Catalytic Efficacies of a 2D pH-Stable MOF by Altering Activation Methods. Chemistry (Weinheim an Der Bergstrasse, Germany), 30(34), e202400375. https://doi.org/10.1002/chem.202400375

Cirujano, F. G., & Llabrés I Xamena, F. X. (2020). Tuning the Catalytic Properties of UiO-66 Metal-Organic Frameworks: From Lewis to Defect-Induced Brønsted Acidity. The Journal of Physical Chemistry Letters, 11(12), 4879–4890. https://doi.org/10.1021/acs.jpclett.0c00984

Ding, C.-W., Luo, W., Zhou, J.-Y., Ma, X.-J., Chen, G.-H., Zhou, X.-P., & Li, D. (2019). Hydroxo Iron(III) Sites in a Metal-Organic Framework: Proton-Coupled Electron Transfer and Catalytic Oxidation of Alcohol with Molecular Oxygen. ACS Applied Materials & Interfaces, 11(49), 45621–45628. https://doi.org/10.1021/acsami.9b15311

Duan, C., Liang, K., Lin, J., Li, J., Li, L., Kang, L., Yu, Y., & Xi, H. (2021). Application of hierarchically porous metal-organic frameworks in heterogeneous catalysis: A review. Science China Materials, 65(2), 298–320. https://doi.org/10.1007/s40843-021-1910-2

Gadzikwa, T., & Matseketsa, P. (2024). The post-synthesis modification (PSM) of MOFs for catalysis. Dalton Transactions, 53(18), 7659–7668. https://doi.org/10.1039/d4dt00514g

Liu, P., Wang, R., & Yu, F. (2025). Highly Efficient Solvent-Free Cyanosilylation of Aldehydes Catalyzed by Bilayered Two-Dimensional Metal-Organic Frameworks. Chemistry (Weinheim an Der Bergstrasse, Germany), 31(27), e202500741. https://doi.org/10.1002/chem.202500741

Qiao, C., Jia, W., Zhong, Q., Liu, B., Zhang, Y., Meng, C., & Tian, F. (2020). MOF-Derived Cu-Nanoparticle Embedded in Porous Carbon for the Efficient Hydrogenation of Nitroaromatic Compounds. Catalysis Letters, 150(12), 3394–3401. https://doi.org/10.1007/s10562-020-03244-6

Sittiwong, J., Boonmark, S., Nunthakitgoson, W., Maihom, T., Wattanakit, C., & Solé-Daura, A., Robinson, A. L., Dolbecq, A., Mellot-Draznieks, C., Romdhane, F. Ben, Penas-Hidalgo, F., Chen, H., Brubach, J.-B., Fontecave, M., Frégnaux, M., Tran, N.-H., & Mialane, P. (2024). Zr-Based MOF-545 Metal-Organic Framework Loaded with Highly Dispersed Small Size Ni Nanoparticles for CO2 Methanation. ACS Applied Materials & Interfaces, 16. https://doi.org/10.1021/acsami.3c18154

Wang, S., Li, S., Feng, H., Yang, W., & Feng, Y.-S. (2023). Visible-Light-Driven Porphyrin-Based Bimetallic Metal–Organic Frameworks for Selective Photoreduction of Nitro Compounds under Mild Conditions. ACS Applied Materials & Interfaces, 15(3), 4845–4856. https://doi.org/10.1021/acsami.2c22686

Wu, C., & Zhao, M. (2017). Incorporation of Molecular Catalysts in Metal-Organic Frameworks for Highly Efficient Heterogeneous Catalysis. Advanced Materials, 29(14), 1605446. https://doi.org/10.1002/adma.201605446

Wu, Z., Niu, F., Yao, W., Gao, S., Chen, D., & Huang, Y. (2024). Photocatalytic Selective Oxidation of Toluene over Chlorine-Coordinated MIL-101(Fe) under Ambient Conditions. Langmuir : The ACS Journal of Surfaces and Colloids, 40(40), 20841–20847. https://doi.org/10.1021/acs.langmuir.4c02431

Yamada, Y. M. A., Baek, H., Sato, T., Nakao, A., & Uozumi, Y. (2020). Metallically gradated silicon nanowire and palladium nanoparticle composites as robust hydrogenation catalysts. Communications Chemistry, 3(1), 81. https://doi.org/10.1038/s42004-020-0332-z

Yang, P., Mao, F., Li, Y., Zhuang, Q., & Gu, J. (2018). Hierarchical Porous Zr-Based MOFs Synthesized by a Facile Monocarboxylic Acid Etching Strategy. Chemistry – A European Journal, 24(12), 2962–2970. https://doi.org/10.1002/chem.201705020

Yoskamtorn, T., Zhao, P., Wu, X.-P., Purchase, K., Orlandi, F., Manuel, P., Taylor, J., Li, Y., Day, S., Ye, L., Tang, C. C., Zhao, Y., & Tsang, S. C. E. (2021). Responses of Defect-Rich Zr-Based Metal-Organic Frameworks toward NH3 Adsorption. Journal of the American Chemical Society, 143(8), 3205–3218. https://doi.org/10.1021/jacs.0c12483

Yu, H., Xu, C., Li, Y., Jin, F., Ye, F., & Li, X. (2020). Performance Enhancement of CuO/ZnO by Deposition on the Metal-Organic Framework of Cu-BTC for Methanol Steam Reforming Reaction. ES Energy & Environment, 8(5). https://doi.org/10.30919/esee8c415

Zhang, Y., Huang, C., & Mi, L. (2020). Metal-organic frameworks as acid- and/or base-functionalized catalysts for tandem reactions. Dalton Transactions, 49(42), 14723–14730. https://doi.org/10.1039/d0dt03025b

Zhao, T., Peng, S., Yu, J., Chen, J., Luo, F., Xiao, P., Nie, S., & Chen, Y. (2025). Advances in Green Synthesis and Photo-/Electrocatalytic Applications of Zirconium-Based MOFs: A Review. Organics, 6(2), 22. https://doi.org/10.3390/org6020022

Zhong, Y., Mao, Y., Shi, S., Wan, M., Ma, C., Wang, S., Chen, C., Zhao, D., & Zhang, N. (2019). Fabrication of Magnetic Pd/MOF Hollow Nanospheres with Double-Shell Structure: Toward Highly Efficient and Recyclable Nanocatalysts for Hydrogenation Reaction. ACS Applied Materials & Interfaces, 11(35), 32251–32260. https://doi.org/10.1021/acsami.9b07864