Kimia Online - Makassar menjadi tuan rumah sebuah forum strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi industri, dan pembuat kebijakan dalam satu panggung yang penuh gagasan. Green Chemistry for Industrial Excellence (GCIE) Makassar 2026 diselenggarakan pada Kamis–Jumat, 23–24 Juli 2026 di Harper Perintis Makassar. Kegiatan ini merupakan inisiatif GlobalGreen Chemistry Innovation & Network Program (GGINP) Indonesia bekerja sama dengan Universitas Pertamina dan Yale University, sebagai upaya mendorong implementasi kimia hijau secara lebih luas di Indonesia, khususnya di kawasan industri Makassar dan sekitarnya. Forum dua hari ini bukan sekadar pertemuan ilmiah biasa, ia adalah ruang di mana gagasan bertemu kebijakan, riset bertemu industri, dan komitmen bertemu aksi nyata demi masa depan yang lebih berkelanjutan.
Hari pertama, Kamis 23 Juli 2026, dibuka dengan laporan kegiatan GGINP oleh Ir. Teuku Muhammad Roffi, Ph.D. selaku Project Director GGINP Indonesia, yang memaparkan perkembangan dan capaian program kimia hijau di Indonesia selama ini. Sambutan kemudian disampaikan oleh PJS Rektor Universitas Pertamina Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, S.Si., M.Si., yang menekankan peran perguruan tinggi sebagai motor penggerak inovasi kimia hijau di tanah air. Pembukaan resmi dan penyampaian keynote dilakukan oleh perwakilan Kementerian Perindustrian, Ir. Wiwik Pudjiastuti, M.Si., Direktur Industri Kimia Hulu, yang menegaskan urgensi transformasi industri kimia nasional menuju praktik yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan sebagai bagian dari agenda besar pembangunan industri Indonesia.
Sesi pagi hari pertama menampilkan empat sesi ilmiah yang sarat pengetahuan. Muhamad Abdul Kadir Martoprawiro, M.S., Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung membuka dengan Sesi 1 bertema Green Chemistry Fundamentals, membangun fondasi pemahaman tentang dua belas prinsip kimia hijau yang menjadi landasan transformasi industri dan riset. Dilanjutkan Sesi 2 oleh Dr. Sci. Muhammad Zakir, S.Si., M.Si. dari Universitas Hasanuddin yang mengupas Waste-to-Value & Advanced Functional Materials, sebuah pendekatan inovatif dalam mengubah limbah menjadi material bernilai tinggi. Sesi 3 menghadirkan Prof. Dr. Eng. Ir. Andi Erwin Eka Putra, S.T., M.T. dari Universitas Hasanuddin yang membahas Energy Efficiency & Sustainable Technologies, memaparkan bagaimana efisiensi energi menjadi kunci keberlanjutan industri. Sesi 4 ditutup oleh Dr. Eng. Irwan Ridwan Rahim, S.T., M.T. dari Universitas Hasanuddin yang menyajikan Environmental Engineering & Industrial Waste Management, mengajak peserta memahami pentingnya pengelolaan limbah industri yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Sesi siang beralih pada tema Green Chemistry in Industry yang lebih aplikatif dan dekat dengan realitas dunia usaha. Ir. Nonni Soraya Sambudi, Ph.D. dari Universitas Pertamina memaparkan The Business Case for Green Chemistry, membuktikan bahwa kimia hijau bukan hanya pilihan moral tetapi juga pilihan bisnis yang menguntungkan. Sesi berikutnya menghadirkan Faisal dari PT Petrokimia Gresik yang berbagi kisah sukses penerapan kimia hijau di salah satu perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia, sebuah testimoni nyata bahwa transformasi hijau di industri bukan mimpi semata. Sesi FGD Industrial Case Study kemudian dipandu oleh Dr. Eng. Tirta Rona Mayangsari, S.Si., M.Si. dari Universitas Pertamina, mengajak peserta mendiskusikan studi kasus industri secara mendalam dan kritis. Hari pertama ditutup dengan Networking Dinner yang mempertemukan seluruh peserta dalam suasana yang hangat, akrab, dan penuh semangat kolaborasi lintas institusi.
Hari kedua, Jumat 24 Juli 2026, diawali dengan momen yang bersejarah: Seremoni Penandatanganan MoU/PKS antara Universitas Pertamina dengan PT Kawasan Industri Makassar (KIMA) dan Universitas Hasanuddin. Penandatanganan yang disaksikan oleh PJS Rektor Universitas Pertamina Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, S.Si., M.Si. dan Direktur Utama KIMA Alif Abadi ini menjadi langkah konkret yang mempertegas komitmen kolaborasi antara dunia akademik dan kawasan industri dalam mendorong transformasi kimia hijau secara nyata di Makassar dan kawasan timur Indonesia. Sesi FGD hari kedua dibuka dengan pemaparan Green Chemistry in a Global Perspective oleh Lars Ratjen, Ph.D. dari Yale University, yang membawa perspektif global tentang urgensi dan peluang besar yang menanti bagi negara-negara yang serius mengadopsi kimia hijau dalam sistem industri mereka. Rangkaian GCIE Makassar 2026 kemudian ditutup dengan presentasi kelompok FGD, pengumuman hasil, sesi foto bersama, dan penutupan resmi yang penuh kesan.
Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar turut berpartisipasi dalam forum bergengsi ini melalui dua perwakilannya, yakni Dr. Rismawaty Sikanna, M.Si. selaku dosen dan Fitria Azis, S.Si., S.Pd., M.Si. selaku analis laboratorium Jurusan Kimia FST UINAM. Keikutsertaan keduanya merupakan bagian dari komitmen Jurusan Kimia FST UINAM untuk terus terlibat aktif dalam perkembangan ilmu kimia terkini, menjalin jaringan dengan dunia industri dan akademisi nasional maupun internasional, serta membawa pulang wawasan dan inspirasi baru demi memperkaya pengembangan keilmuan, riset, dan pengabdian masyarakat di kampus.
Sebagai penutup, GCIE Makassar 2026 mengingatkan kita pada sebuah kebenaran yang semakin mendesak untuk direnungkan dan diwujudkan: kimia adalah ilmu yang lahir dari alam, dan sudah sepatutnya ia kembali mengabdi kepada alam. Bumi tidak membutuhkan industri yang lebih besar, bumi membutuhkan industri yang lebih bijak. Green chemistry bukan sekadar pendekatan ilmiah, ia adalah tanggung jawab peradaban. Karena generasi yang akan datang tidak mewarisi bumi dari nenek moyangnya, mereka meminjamnya dari anak cucunya sendiri.
F3Z