Seri II: Inspirasi Fotosintesis dan Dinamika Muatan dalam DSSC

  • 01:03 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Penulis: Aisyah, S.Si., M.Si.

Setelah memahami bagaimana zat warna dalam DSSC dapat dirancang secara rasional melalui arsitektur donor–π–akseptor dan pengaturan tingkat energi HOMO–LUMO pada tulisan sebelumnya, pembahan dilanjutkan pada desain molekul yang menjadi sumber inspirasi dan batas penerapannya. Pada tahap ini, efisiensi tidak lagi dipandang semata sebagai hasil optimasi struktural, tetapi sebagai konsekuensi dari interaksi kompleks antara molekul, cahaya, dan lingkungan sistem. Oleh karena itu, untuk memahami arah perkembangan DSSC secara lebih utuh, perlu ditinjau zat warna alami selain zat warna sintetik konvensional.

Bagian kedua ini mengajak pembaca menelusuri spektrum pendekatan yang lebih luas, dimulai dari pigmen alam sebagai inspirasi fotosintesis, dilanjutkan dengan pemanfaatan zat warna makrosiklik seperti porfirin dan ftalosianin, hingga pembahasan dinamika elektron, rekombinasi muatan, dan tantangan keberlanjutan. Dengan perspektif ini, DSSC tidak hanya dipahami sebagai hasil rekayasa molekul di laboratorium, tetapi sebagai sistem energi yang terus berevolusi melalui perpaduan kimia organik, kimia fisik, dan prinsip-prinsip alam yang telah teruji oleh waktu.

Pigmen Alam, Inspirasi dari Fotosintesis

Selain molekul sintetis yang dirancang melalui pendekatan kimia organik modern, perkembangan DSSC juga banyak terinspirasi oleh pigmen alam yang secara alami telah berevolusi untuk menyerap cahaya secara efisien. Dalam sistem biologis, pigmen seperti klorofil, karotenoid, antosianin, dan betalain berperan sebagai light-harvesting pigments pada fotosintesis. Pada daun, klorofil menyerap foton cahaya matahari melalui sistem π-terkonjugasi pada cincin porfirinnya (Achelle et al., 2011), yang memungkinkan transisi elektron dari tingkat energi dasar ke keadaan tereksitasi. Energi eksitasi ini kemudian ditransfer secara terarah dalam kompleks fotosintetik untuk memicu pemisahan muatan awal yang menjadi dasar konversi energi cahaya menjadi energi kimia (Jia et al., 2020). Keberhasilan alam dalam memanfaatkan cahaya matahari ini mendorong para peneliti untuk mengeksplorasi pigmen alam sebagai zat warna alternatif dalam DSSC, terutama dari perspektif keberlanjutan dan green chemistry.

Secara struktural, pigmen alam memiliki sistem π-terkonjugasi yang luas, yang memungkinkan terjadinya transisi elektronik π→π* ketika menyerap cahaya tampak. Antosianin, misalnya, memiliki kerangka flavilium dengan banyak gugus hidroksil dan metoksi, yang bertanggung jawab atas warna merah hingga ungu pada bunga dan buah (Negi, 2025). Klorofil memiliki sistem porfirin dengan ion Mg² di pusat cincin, yang sangat efisien dalam menyerap cahaya biru dan merah(Simkin et al., 2022). Karotenoid, dengan rantai poli-ena panjang menyerap cahaya biru-hijau dan berperan sebagai pigmen pelindung terhadap kelebihan energi cahaya (Supriyanto et al., 2018).

Dalam banyak penelitian DSSC, beberapa pigmen alam telah digunakan secara luas sebagai zat warna model, terutama karena ketersediaannya yang melimpah dan struktur kimianya yang kaya sistem π-terkonjugasi. Salah satu kelompok yang paling sering diteliti adalah antosianin, pigmen flavonoid yang memberikan warna merah, ungu, dan biru pada buah serta bunga (Negi, 2025). Antosianin diekstraksi dari sumber seperti blackberry, blueberry, anggur merah, rosella, kol ungu, dan kulit manggis (Simkin et al., 2022). Secara struktural, antosianin memiliki kerangka flavilium dengan banyak gugus hidroksil, yang memungkinkan interaksi dengan permukaan TiO melalui ikatan hidrogen dan koordinasi lemah (Candela et al., 2021). Meskipun efisiensinya relatif rendah, antosianin sering digunakan sebagai sistem model untuk mempelajari mekanisme adsorpsi dye alami dan transfer elektron pada DSSC.

Pigmen alam lain yang cukup populer adalah betalain, khususnya betasianin, yang memberikan warna merah keunguan pada bit merah (Beta vulgaris) dan buah naga merah. Dibandingkan antosianin, betalain memiliki stabilitas pH yang lebih baik dan menunjukkan serapan cahaya yang cukup kuat pada wilayah tampak. Struktur betalain mengandung gugus karboksilat alami, yang berperan sebagai anchoring group ke TiO, sehingga interaksinya dengan semikonduktor relatif lebih baik (Calogero et al., 2015). Hal ini menjadikan betalain sebagai salah satu pigmen alam yang paling konsisten menghasilkan kinerja DSSC dalam studi berbasis bahan hayati.

Kelompok pigmen klorofil juga banyak dieksplorasi, terutama klorofil a dan b yang diekstraksi dari daun hijau seperti bayam, alfalfa, dan rumput laut. Klorofil memiliki sistem makrosiklik porfirin dengan ion Mg² di pusatnya, yang sangat efisien dalam menyerap cahaya biru dan merah (Patni et al., 2020). Namun, keterbatasan klorofil dalam DSSC terletak pada stabilitasnya yang rendah dan lemahnya ikatan dengan TiO, karena gugus jangkar yang tidak optimal (Bbumba et al., 2024). Untuk mengatasi hal ini, beberapa penelitian melakukan modifikasi kimia sederhana atau demetalisasi (menghilangkan Mg²) guna meningkatkan adsorpsi dan kestabilan pigmen pada permukaan semikonduktor.

Selain itu, karotenoid seperti β-karoten, lutein, dan likopen juga telah digunakan dalam DSSC, baik sebagai dye utama maupun sebagai co-sensitizer (Venkatesan et al., 2023). Karotenoid memiliki rantai poliena panjang dengan sistem π-terkonjugasi yang luas, memungkinkan penyerapan cahaya pada wilayah biru-hijau (Supriyanto et al., 2018). Namun, karena tidak memiliki gugus jangkar yang kuat, karotenoid sering menunjukkan efisiensi injeksi elektron yang rendah (Azra et al., 2025). Meski demikian, perannya sebagai pigmen pelengkap penting karena mampu memperluas spektrum serapan dan membantu menstabilkan sistem melalui mekanisme energy transfer.

Namun, ketika diaplikasikan dalam DSSC, pigmen alam menunjukkan keterbatasan yang cukup signifikan. Salah satu tantangan utama adalah lemahnya ikatan antara pigmen dan permukaan TiO, karena tidak semua pigmen memiliki gugus jangkar (anchoring groups) seperti asam karboksilat yang diperlukan untuk adsorpsi kuat. Selain itu, stabilitas fotokimia pigmen alam relatif rendah; banyak pigmen mudah terdegradasi oleh sinar UV, panas, atau lingkungan asam-basa. Akibatnya, efisiensi DSSC berbasis pigmen alam umumnya masih rendah, sering kali di bawah satu persen (Dutta et al., 2025).

Meskipun demikian, nilai ilmiah pigmen alam tidak terletak semata pada performa efisiensi, melainkan pada perannya sebagai model konseptual. Studi terhadap pigmen alam membantu peneliti memahami hubungan antara struktur molekul, sistem konjugasi, dan mekanisme transfer muatan. Dalam banyak kasus, pigmen alam menjadi titik awal pengembangan (Gokul et al., 2018; Nemala et al., 2018), yaitu molekul sintetis yang meniru motif struktural pigmen biologis tetapi dimodifikasi agar lebih stabil dan kompatibel dengan DSSC.

Zat Warna Makrosiklik: Porfirin dan Ftalosianin sebagai Dye Generasi Lanjut

Salah satu kelas zat warna yang paling sukses dalam DSSC modern adalah porfirin dan ftalosianin. Kedua molekul ini memiliki sistem π-konjugasi yang sangat luas dan simetri tinggi, menjadikannya penyerap cahaya yang sangat kuat. Secara historis, porfirin telah lama dikenal dalam biokimia sebagai kerangka dasar klorofil dan hemoglobin, sementara ftalosianin banyak digunakan sebagai pigmen industri karena kestabilan termal dan kimianya yang sangat baik.

Dalam konteks DSSC, porfirin sering dimodifikasi dengan pendekatan D–π–A untuk menciptakan arah transfer muatan yang jelas. Substituen donor ditambahkan pada salah satu sisi cincin porfirin, sementara gugus akseptor dan jangkar (seperti asam karboksilat) ditempatkan pada sisi lain. Desain asimetris ini penting karena porfirin secara alami bersifat sangat simetris, yang dapat menghambat pemisahan muatan jika tidak direkayasa dengan tepat (Ishida et al., 2011; Kang et al., 2013; Krishna et al., 2017). Hasilnya sangat menjanjikan, DSSC berbasis porfirin telah mencapai efisiensi lebih dari 13%, menjadikannya salah satu sistem DSSC paling efisien hingga saat ini (Chen et al., 2023; Higashino & Imahori, 2015).

Ftalosianin, di sisi lain, unggul dalam menyerap cahaya pada wilayah merah hingga near-infrared (NIR), wilayah spektrum yang kurang dimanfaatkan oleh banyak dye organik konvensional. Namun, struktur planar ftalosianin menyebabkan kecenderungan kuat untuk beragregasi di permukaan TiO, yang dapat menurunkan efisiensi injeksi elektron. Untuk mengatasi hal ini, strategi kimia organik seperti penambahan substituen besar (bulky substituents) dan rantai alkil panjang diterapkan untuk meningkatkan steric hindrance dan mencegah agregasi molekul (Morandeira et al., 2007; Tejerina et al., 2016).

Selain porfirin dan ftalosianin, kelas pigmen sintetik lain yang banyak mendapat perhatian adalah ruthenium polipiridil complexes, yang secara historis merupakan standar benchmark dyes dalam DSSC. Zat warna seperti N3, N719, dan Z907 memiliki pusat logam Ru(II) yang dikelilingi oleh ligan bipiridin tersubstitusi, menghasilkan serapan cahaya yang luas dan tingkat energi yang sangat cocok dengan pita konduksi TiO (Adeloye & Ajibade, 2014; Mauri et al., 2021). Meskipun secara struktural bukan molekul organik murni, kompleks ini berperan penting dalam membentuk dasar pemahaman tentang transfer muatan dan stabilitas jangka panjang pada DSSC.

Di luar kompleks logam, berkembang pula pigmen sintetik berbasis sistem aromatik terkonjugasi non-makrosiklik yang dirancang sepenuhnya dari kerangka organik. Contohnya adalah zat warna berbasis indoline, coumarin, benzothiadiazole, dan diketopyrrolopyrrole (DPP) (Ding et al., 2013; Wong et al., 2012), yang memanfaatkan sistem π-planar untuk meningkatkan absorpsi cahaya dan mempercepat transfer elektron. Molekul-molekul ini sering dirancang dalam arsitektur D–π–A atau D–A–π–A (Souilah et al., 2020; Wu et al., 2012), sehingga secara fungsional mampu menyaingi dye makrosiklik dengan keunggulan berupa kemudahan sintesis dan fleksibilitas modifikasi struktur.

Kelas pigmen sintetik lain yang semakin berkembang adalah boron-dipyrromethene (BODIPY) dyes (Liu et al., 2019; Lu et al., 2014), yang dikenal memiliki koefisien serapan molar tinggi dan kestabilan fotokimia yang baik. Struktur BODIPY bersifat modular, memungkinkan penyetelan panjang gelombang serapan melalui substitusi aromatik atau perluasan konjugasi, sehingga cocok untuk aplikasi co-sensitization (Kaneza et al., 2016; Wanwong et al., 2018). Dalam DSSC, BODIPY sering digunakan untuk melengkapi dye utama dengan memperluas cakupan spektrum cahaya tanpa mengorbankan stabilitas sistem.

Dinamika Muatan, Rekombinasi, dan Tantangan Kestabilan Elektrolit dalam DSSC

Dalam sel surya tersensitisasi zat warna (DSSC), kinerja perangkat sangat dipengaruhi oleh bagaimana elektron bergerak dan bertahan setelah tereksitasi oleh cahaya (Clifford et al., 2011). Salah satu hambatan utamanya ialah rekombinasi elektron, yakni kecenderungan elektron tereksitasi kembali ke tingkat energi lebih rendah sebelum sempat berkontribusi pada pembentukan arus listrik (Guo et al., 2024; Wang et al., 2011). Dinamika elektron dalam DSSC ditentukan oleh keseimbangan halus antara injeksi elektron dari zat warna tereksitasi ke pita konduksi semikonduktor dan laju rekombinasi muatan yang tidak diinginkan. Setelah injeksi, elektron bergerak melalui jaringan nanopori TiO menuju elektroda transparan, sementara hole ditransfer ke mediator redoks dalam elektrolit, membentuk siklus muatan yang berkelanjutan.

Tantangan utama muncul ketika elektron yang telah diinjeksi mengalami rekombinasi prematur, baik dengan zat warna teroksidasi maupun dengan spesies pengoksidasi dalam elektrolit, yang secara langsung menurunkan arus dan efisiensi sel. Untuk menekan proses ini, desain molekul zat warna diarahkan pada pemisahan muatan yang lebih efektif, misalnya dengan memperpanjang jarak antara donor elektron dan permukaan semikonduktor atau menambahkan gugus jangkar yang berfungsi sebagai penghalang sterik (Imahori et al., 2010). Selain itu, modifikasi permukaan TiO menggunakan lapisan pasivasi atau ko-adsorben organik terbukti mampu memperlambat laju rekombinasi dengan membatasi akses elektrolit ke permukaan semikonduktor (Basu et al., 2016; Son et al., 2012).

Di luar isu rekombinasi, kestabilan elektrolit menjadi tantangan krusial lain yang menentukan umur operasional DSSC. Elektrolit cair berbasis pasangan redoks iodida/triiodida, meskipun sangat efektif secara kinetik, rentan terhadap volatilitas, kebocoran, serta degradasi kimia akibat panas dan paparan cahaya jangka panjang. Berbagai pendekatan telah dikembangkan untuk mengatasi masalah ini, termasuk penggunaan elektrolit kuasi-padat dan ionik cair yang memiliki tekanan uap rendah dan stabilitas termal lebih baik, meskipun sering diiringi kompromi pada mobilitas ion (Xu et al., 2017). Alternatif yang semakin mendapat perhatian ialah mediator redoks berbasis kobalt atau tembaga dengan ligan organik yang dirancang secara spesifik, karena mampu menekan rekombinasi sekaligus meningkatkan kestabilan kimia, sehingga kinerja dan daya tahan DSSC dapat ditingkatkan secara simultan (Sonai et al., 2017).

Menuju DSSC Berkelanjutan dan Aplikasi Masa Depan

Selain efisiensi, isu keberlanjutan menjadi fokus penting dalam pengembangan DSSC generasi berikutnya. Penggunaan pelarut organik volatil dan elektrolit berbasis iodida mulai dipertimbangkan ulang (Joly et al., 2014), digantikan oleh pelarut ramah lingkungan dan elektrolit padat (solid-state DSSC) (Farhana et al., 2021; Galliano et al., 2021). Dalam konteks ini, zat warna organik yang stabil, tidak beracun, dan dapat disintesis melalui jalur hijau menjadi semakin relevan.

Keunggulan DSSC juga terletak pada fleksibilitas aplikasinya. Berbeda dari sel surya silikon yang kaku dan buram, DSSC dapat dibuat transparan dan berwarna, sehingga cocok untuk building-integrated photovoltaics (BIPV) (Gokul et al., 2018; Nemala et al., 2018), seperti jendela penghasil listrik atau fasad bangunan. Selain itu, DSSC fleksibel berpotensi digunakan pada perangkat portabel, sensor cahaya, dan aplikasi indoor photovoltaics, di mana intensitas cahaya relatif rendah tetapi stabil.

Referensi:

Achelle, S., Teulade‐Fichou, M., Maillard, P., Baldeck, P., & Couleaud, P. (2011). Carbohydrate–Porphyrin Conjugates with Two‐Photon Absorption Properties as Potential Photosensitizing Agents for Photodynamic Therapy. European Journal of Organic Chemistry, 2011(7), 1271–1279. https://doi.org/10.1002/ejoc.201001209

Adeloye, A. O., & Ajibade, P. A. (2014). Towards the Development of Functionalized Polypyridine Ligands for Ru(II) Complexes as Photosensitizers in Dye-Sensitized Solar Cells (DSSCs). Molecules, 19(8), 12421–12460. https://doi.org/10.3390/molecules190812421

Azra, M. R., Hower, H., & Tamrin, T. (2025). FORMULATION OPTIMIZATION OF SWAMP VEGETATION NATURAL DYES FOR DSSC USING SIMPLEX LATTICE DESIGN. Indonesian Physical Review, 9(1), 13–26. https://doi.org/10.29303/ipr.v9i1.528

Basu, K., Benetti, D., Zhao, H., Jin, L., Vetrone, F., Vomiero, A., & Rosei, F. (2016). Enhanced photovoltaic properties in dye sensitized solar cells by surface treatment of SnO2 photoanodes. Scientific Reports, 6(1). https://doi.org/10.1038/srep23312

Bbumba, S., Ntale, M., Kigozi, M., Karume, I., & Oyege, I. (2024). How Components of Dye-sensitized Solar Cells Contribute to Efficient Solar Energy Capture. Asian Journal of Applied Chemistry Research, 15(2), 24–40. https://doi.org/10.9734/ajacr/2024/v15i2285

Calogero, G., Di Marco, G., Bartolotta, A., Di Carlo, A., & Bonaccorso, F. (2015). Vegetable-based dye-sensitized solar cells. Chemical Society Reviews, 44(10), 3244–3294. https://doi.org/10.1039/c4cs00309h

Candela, R. G., Cavallaro, G., Badalamenti, N., Piacente, S., Lazzara, G., & Bruno, M. (2021). Conversion of Organic Dyes into Pigments: Extraction of Flavonoids from Blackberries (Rubus ulmifolius) and Stabilization. Molecules, 26(20), 6278. https://doi.org/10.3390/molecules26206278

Chen, C., Nguyen, V. S., Tsai, M., Wei, T., Chen, Y., Chen, J., Yeh, C., Lin, S., & Chen, S. (2023). Double Fence Porphyrins Featuring Indacenodithiophene Group as an Effective Donor for High‐Efficiency Dye‐Sensitized Solar Cells. Advanced Energy Materials, 13(20). https://doi.org/10.1002/aenm.202300353

Clifford, J. N., Martínez-Ferrero, E., Viterisi, A., & Palomares, E. (2011). Sensitizer molecular structure-device efficiency relationship in dye sensitized solar cells. Chem. Soc. Rev., 40(3), 1635–1646. https://doi.org/10.1039/b920664g

Ding, W.-L., Geng, Z.-Y., Yan, Y.-F., Zhao, X.-L., & Wang, D.-M. (2013). Molecular Engineering of Indoline-Based D–A−π–A Organic Sensitizers toward High Efficiency Performance from First-Principles Calculations. The Journal of Physical Chemistry C, 117(34), 17382–17398. https://doi.org/10.1021/jp402645h

Dutta, A., Gohain, B., Trang, T. T., Jennings, J. R., Van Hao, N., Konwer, S., Gogoi, A., & Ekanayake, P. (2025). Application of natural photosensitizers in dye-sensitized solar cells: opportunities, challenges, and future outlook. Photochemical & Photobiological Sciences: Official Journal of the European Photochemistry Association and the European Society for Photobiology, 24(8), 1443–1488. https://doi.org/10.1007/s43630-025-00762-3

Farhana, N. K., Ramesh, K., Saidi, N. M., Ramesh, S., & Bashir, S. (2021). Review on the Revolution of Polymer Electrolytes for Dye-Sensitized Solar Cells. Energy & Fuels, 35(23), 19320–19350. https://doi.org/10.1021/acs.energyfuels.1c03039

Galliano, S., Hagfeldt, A., Gerbaldi, C., Giordano, F., Bonomo, M., Viscardi, G., Bella, F., Barolo, C., & Grätzel, M. (2021). Xanthan‐Based Hydrogel for Stable and Efficient Quasi‐Solid Truly Aqueous Dye‐Sensitized Solar Cell with Cobalt Mediator. Solar RRL, 5(7), 2170074. https://doi.org/10.1002/solr.202170074

Gokul, G., Soman, S., & Pradhan, S. C. (2018). Dye-Sensitized Solar Cells as Potential Candidate for Indoor/Diffused Light Harvesting Applications: From BIPV to Self-powered IoTs (pp. 281–316). Springer Singapore. https://doi.org/10.1007/978-981-13-3302-6_9

Guo, Q., Imahori, H., Packwood, D., Adachi, R., Yamakata, A., Wechwithayakhlung, C., & Higashino, T. (2024). Suppression of Charge Recombination by Vertical Arrangement of A Donor Moiety on Flat Planar Dyes for Efficient Dye-Sensitized Solar Cells. ChemSusChem, 17(9). https://doi.org/10.1002/cssc.202301661

Higashino, T., & Imahori, H. (2015). Porphyrins as excellent dyes for dye-sensitized solar cells: recent developments and insights. Dalton Transactions, 44(2), 448–463. https://doi.org/10.1039/c4dt02756f

Imahori, H., Kathiravan, A., Chábera, P., Hayashi, H., Canton, S. E., Infahsaeng, Y., Sundström, V., Isoda, S., Kurata, H., Kang, S., Yartsev, A. P., Pascher, T., & Haruta, M. (2010). Photoinduced Charge Carrier Dynamics of Zn−Porphyrin−TiO2 Electrodes: The Key Role of Charge Recombination for Solar Cell Performance. The Journal of Physical Chemistry A, 115(16), 3679–3690. https://doi.org/10.1021/jp103747t

Ishida, M., Park, S. W., Koo, Y. B., Hwang, D., Kim, D., Sessler, J. L., & Kim, D. Y. (2011). Donor-Substituted β-Functionalized Porphyrin Dyes on Hierarchically Structured Mesoporous TiO2 Spheres. Highly Efficient Dye-Sensitized Solar Cells. The Journal of Physical Chemistry C, 115(39), 19343–19354. https://doi.org/10.1021/jp202307b

Jia, J., Wang, Y., Yang, J., Sun, J., Shi, Y., Song, Y., & Zhang, X. (2020). Enhanced Two-Photon Absorption of Cross-Conjugated Chalcone Derivatives: Modulation of the Effective π-Conjugated Structure. The Journal of Physical Chemistry A, 124(51), 10808–10816. https://doi.org/10.1021/acs.jpca.0c08656

Joly, D., Pellejà, L., Narbey, S., Oswald, F., Chiron, J., Clifford, J. N., Palomares, E., & Demadrille, R. (2014). A Robust Organic Dye for Dye Sensitized Solar Cells Based on Iodine/Iodide Electrolytes Combining High Efficiency and Outstanding Stability. Scientific Reports, 4(1). https://doi.org/10.1038/srep04033

Kaneza, N., Adams, R. E., Polansky, S. H., Vasiliu, M., Dixon, D. A., Archana, P. S., Zhang, J., Pan, S., Gupta, A., Shan, Z., Liu, H., & Schmehl, R. H. (2016). Electrochemical and Spectroscopic Properties of Boron Dipyrromethene–Thiophene–Triphenylamine-Based Dyes for Dye-Sensitized Solar Cells. The Journal of Physical Chemistry C, 120(17), 9068–9080. https://doi.org/10.1021/acs.jpcc.6b01611

Kang, M. S., Choi, I. T., Kim, Y. W., Ju, M. J., Kang, S. H., You, B. S., Hong, J. Y., & Kim, H. K. (2013). Novel D–π–A structured Zn(ii)–porphyrin dyes with bulky fluorenyl substituted electron donor moieties for dye-sensitized solar cells. Journal of Materials Chemistry A, 1(34), 9848. https://doi.org/10.1039/c3ta11818e

Krishna, N. V., Islam, A., Krishna, J. V. S., Singh, S. P., Gupta, R. K., Bedja, I., Han, L., & Giribabu, L. (2017). Donor-π–Acceptor Based Stable Porphyrin Sensitizers for Dye-Sensitized Solar Cells: Effect of π-Conjugated Spacers. The Journal of Physical Chemistry C, 121(12), 6464–6477. https://doi.org/10.1021/acs.jpcc.6b12869

Liu, H., Liu, L., Fu, Y., Liu, E., & Xue, B. (2019). Theoretical Design of D-π-A-A Sensitizers with Narrow Band Gap and Broad Spectral Response Based on Boron Dipyrromethene for Dye-Sensitized Solar Cells. Journal of Chemical Information and Modeling, 59(5), 2248–2256.https://doi.org/10.1021/acs.jcim.9b00187

Lu, H., Mack, J., Shen, Z., & Yang, Y. (2014). Structural modification strategies for the rational design of red/NIR region BODIPYs. Chem. Soc. Rev., 43(13), 4778–4823. https://doi.org/10.1039/c4cs00030g

Mauri, L., Colombo, A., Dragonetti, C., Roberto, D., & Fagnani, F. (2021). Recent Investigations on Thiocyanate-Free Ruthenium(II) 2,2-Bipyridyl Complexes for Dye-Sensitized Solar Cells. Molecules, 26(24), 7638. https://doi.org/10.3390/molecules26247638

Morandeira, A., Durrant, J. R., O’Regan, B., Shuttle, C., Martínez-Díaz, M. V., Torres, T., Palomares, E., López-Duarte, I., & Haji-Zainulabidin, N. A. (2007). Slow Electron Injection on Ru−Phthalocyanine Sensitized TiO2. Journal of the American Chemical Society, 129(30), 9250–9251. https://doi.org/10.1021/ja0722980

Negi, A. (2025). Natural Dyes and Pigments: Sustainable Applications and Future Scope. Sustainable Chemistry, 6(3), 23. https://doi.org/10.3390/suschem6030023

Nemala, S. S., Bohm, S., Mallick, S., S Aneja, K., Kartikay, P., Bohm, H. L. M., & Bhargava, P. (2018). Novel High Pressure Exfoliated Graphene-Based Semitransparent Stable DSSCs for Building Integrated Photovoltaics. ACS Applied Energy Materials, 1(6), 2512–2519. https://doi.org/10.1021/acsaem.8b00254

Patni, N., G Pillai, S., & Sharma, P. (2020). Effect of using betalain, anthocyanin and chlorophyll dyes together as a sensitizer on enhancing the efficiency of dye‐sensitized solar cell. International Journal of Energy Research, 44(13), 10846–10859. https://doi.org/10.1002/er.5752

Simkin, A. J., Hofmann, T. A., Doss, C. G. P., Ramamoorthy, S., Lawson, T., & Kapoor, L. (2022). The role of photosynthesis related pigments in light harvesting, photoprotection and enhancement of photosynthetic yield in planta. Photosynthesis Research, 152(1), 23–42. https://doi.org/10.1007/s11120-021-00892-6

Son, H.-J., Gordon, R. G., Jeong, N. C., Hupp, J. T., Aaltonen, T., Wang, X., & Prasittichai, C. (2012). Glass-Encapsulated Light Harvesters: More Efficient Dye-Sensitized Solar Cells by Deposition of Self-Aligned, Conformal, and Self-Limited Silica Layers. Journal of the American Chemical Society, 134(23), 9537–9540. https://doi.org/10.1021/ja300015n

Sonai, G. G., Miettunen, K., Nogueira, A. F., Tiihonen, A., & Lund, P. D. (2017). Long-Term Stability of Dye-Sensitized Solar Cells Assembled with Cobalt Polymer Gel Electrolyte. The Journal of Physical Chemistry C, 121(33), 17577–17585. https://doi.org/10.1021/acs.jpcc.7b03865

Souilah, M., Zgou, H., Benjelloun, A. T., Hachi, M., Benzakour, M., Mcharfi, M., El Khattabi, S., & Fitri, A. (2020). Coumarin-based D–π–A dyes for efficient DSSCs: DFT and TD-DFT study of the π-spacers influence on photovoltaic properties. Research on Chemical Intermediates, 47(2), 875–893. https://doi.org/10.1007/s11164-020-04302-9

Supriyanto, A., Ahliha, A. H., & Nurosyid, F. (2018). Carotenoid pigment as sensitizers for applications of dye-sensitized solar cell (DSSC). IOP Conference Series: Materials Science and Engineering, 432(1), 012060. https://doi.org/10.1088/1757-899x/432/1/012060

Tejerina, L., Martínez‐Díaz, M. V., Torres, T., & Nazeeruddin, M. K. (2016). The Influence of Substituent Orientation on the Photovoltaic Performance of Phthalocyanine-Sensitized Solar Cells. Chemistry – A European Journal, 22(13), 4369–4373. https://doi.org/10.1002/chem.201600166

Venkatesan, S., Hsu, T.-H., Lee, Y.-L., & Teng, H. (2023). Dye‐Sensitized Solar Cells with Efficiency over 36% under Ambient Light Achieved by Cosensitized Tandem Structure. Solar RRL, 7(11). https://doi.org/10.1002/solr.202300220

Wang, H., Liu, M., Bell, J., Cheng, Y., Miura, H., Wang, P., & Zhang, M. (2011). Kinetics of electron recombination of dye-sensitized solar cells based on TiO2 nanorod arrays sensitized with different dyes. Physical Chemistry Chemical Physics, 13(38), 17359. https://doi.org/10.1039/c1cp22482d

Wanwong, S., Sangkhun, W., & Wootthikanokkhan, J. (2018). The effect of co-sensitization methods between N719 and boron dipyrromethene triads on dye-sensitized solar cell performance†. RSC Advances, 8(17), 9202–9210. https://doi.org/10.1039/c8ra00862k

Wong, W. W. H., Subbiah, J., Kirby, N., Müllen, K., Jones, D. J., Purushothaman, B., Holmes, A. B., Pisula, W., & Puniredd, S. R. (2012). Liquid crystalline hexa-peri-hexabenzocoronene-diketopyrrolopyrrole organic dyes for photovoltaic applications. Journal of Materials Chemistry, 22(39), 21131. https://doi.org/10.1039/c2jm34394k

Wu, Y., Zakeeruddin, S. M., Grätzel, M., Zhu, W., Marszalek, M., Zhang, Q., & Tian, H. (2012). High-conversion-efficiency organic dye-sensitized solar cells: molecular engineering on D–A–π-A featured organic indoline dyes. Energy & Environmental Science, 5(8), 8261. https://doi.org/10.1039/c2ee22108j

Xu, T., Ma, T., Li, J., Xi, Z., Gong, R., Chen, L., & Huang, T. (2017). Environmental effects on the ionic conductivity of poly(methyl methacrylate) (PMMA)-based quasi-solid-state electrolyte. Ionics, 24(9), 2621–2629. https://doi.org/10.1007/s11581-017-2397-y

Selengkapnya klik di sini